Seperti diketahui, Kabupaten Klaten masuk 19 daerah miskin ekstrem di Jawa Tengah. Total ada 25 desa di lima kecamatan yang masuk miskin ekstrem. Meliputi Kecamatan Jatinom, Wedi, Trucuk, Wonosari, dan Karangnongko.
Mulyani siap membawa Klaten dari zona miskin ekstrem dengan menggulirkan berbagai program kerja pada tahun ini. Seperti rehab rumah tidak layak huni (RTLH), jambanisasi hingga melalui Karya Bakti Mandiri Klaten Bersinar (KBMKB). Ada pun sasaran utamanya yakni di 25 desa tersebut.
”Yang masih jadi PR dalam kepimpinan saya terkait kemiskinan. Saya ingin bawa Klaten segera keluar dari zona miskin,” ucap Bupati Klaten Sri Mulyani, Rabu (27/7).
Mulyani menambahkan, perlu keterlibatan berbagai pihak dengan bersatu dan kompak dalam mengentaskan kemiskinan. Terutama para tokoh asal Klaten agar bisa berkontribusi untuk tanah kelahirannya.
”Harapan saya, mereka juga ikut berjuang untuk membangun Klaten. Selanjutnya di momen Hari Jadi Ke-218 Klaten dari pandemi bisa segera menuju endemi. Semoga segera pulih dan bisa beraktivitas kembali seperti sebelum adanya pandemi,” ucap Mulyani.
Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah, Penelitian dan Pengembangan (Bappeda-Litbang) Klaten Pandu Wirabangsa menjelaskan, pihaknya dengan jajaran dari organisasi perangkat daerah (OPD) terkait menindaklanjuti terkait kemiskinan ekstrem. Berbagai upaya akan dilakukan untuk menghapus kemiskinan di Kota Bersinar.
”Ini sedang kami formulasikan sambil menunggu petunjuk teknis. Tentunya yang menjadi prioritas adalah 25 desa yang masuk dalam miskin ekstrem di lima kecamatan. Mulai 2022 ini kami mengarahkan ke sana yang menjadi sasaran itu,” jelas Mulyani.
Pandu menambahkan, masing-masing desa miskin ekstrem memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Meski begitu, program utama untuk membawa Klaten dari zona miskin ekstrem yakni penguatan ekonomi. Kemudian melalui RTLH hingga penyediaan air minum dan sanitasi berbasis masyarakat (Pamsimas).
”Untuk jumlah RTLH di 25 desa miskin ekstrem itu terdapat 1.091 unit. Tentunya juga kita sesuaikan dengan karakteristik masing-masing desanya sesuai porsinya. Misalnya memiliki potensi lahan pertanian maka pendekatannya juga melalui pertanian,” ucap Pandu. (ren/adi/dam) Editor : Damianus Bram