Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Gejog Lesung Ikon Desa Barepan

Damianus Bram • Selasa, 9 Agustus 2022 | 04:52 WIB
TRADISI: Festival Gejog Lesung di Pendapa Alun-Alun Desa Barepan, Cawas. (ANGGA PURENDA/RADAR SOLO)
TRADISI: Festival Gejog Lesung di Pendapa Alun-Alun Desa Barepan, Cawas. (ANGGA PURENDA/RADAR SOLO)
KLATEN – Kesenian tradisional gejog lesung sebagai instrumen musik perkusi telah berkembang puluhan tahun di Desa Barepan, Kecamatan Cawas. Guna melestarikan kesenian tersebut, setiap tahunnya digelar Festival Gejog Lesung. Seperti yang digelar di Alun-alun Desa Barepan, Minggu (7/8) sore. Ada 14 kelompok yang tampil.

”Gejog Lesung ikon desa kami. Kami harapkan jadi daya tarik Desa Barepan. Terlebih lagi sudah dikenal oleh warga Gunungkidul,” ucap Kepala Desa Barepan Irmawan Andriyanto.

Irmawan menjelaskan, festival Gejog Lesung tahun ini dibatasi pesertanya. Setiap RW hanya diperbolehkan mengirimkan dua kelompok. ”Awalnya Gejog Lesung ini dimainkan warga sebagai teman begadang. Biasanya dimainkan di pos ronda hingga tengah malam. Kemudian pemerintah desa mencoba mewadahinya untuk dikembangkan, sehingga memiliki nilai jual lebih tinggi,” ucap Irmawan.

Dia menambahkan, selama ini yang menyaksikan Gejog Lesung tidak hanya wrga Klaten, tetapi juga Gunungkidul. Bahkan datang ke Barepan untuk belajar memainkan Gejog Lesung. Sehingga berpotensi menjadi desa wisata.

”Kami merintisnya sejak lima tahun lalu. Termasuk membangun patung Gejog Lesung yang ditempatkan di pojok alun-alun semakin mempertegas ikon kami,” ucapnya.

Mengangkat gejog lesung sebagai ikon desa juga telah memberikan dampak pada perekonomian Desa Barepan. Terutama bagi 84 pelaku UMKM yang berjualan di sekitar alun-alun. Mengingat warga dari luar daerah berdatangan yang ingin melihat dan belajar dari ikon Desa Barepan tersebut.

Sementara itu, salah seorang pelaku seni Gejog Lesung asal Desa Barepan, Ari Suryana, 45, menceritakan, kesenian tradisional itu berkembang sejak 2010. Tapi jauh sebelumnya warga setempat menggunakannya sebagai alat penumbuk padi tradisional. ”Hal yang perlu diperhatikan yakni mengeksplorasi, harmonisasi dan kekompakknya. Mengingat gejog lesung ini tidak bernada,” ucapnya. (ren/adi/dam) Editor : Damianus Bram
#Gejog Lesung #Festival Gejog Lesung #Desa Barepan