”Gejog Lesung ikon desa kami. Kami harapkan jadi daya tarik Desa Barepan. Terlebih lagi sudah dikenal oleh warga Gunungkidul,” ucap Kepala Desa Barepan Irmawan Andriyanto.
Irmawan menjelaskan, festival Gejog Lesung tahun ini dibatasi pesertanya. Setiap RW hanya diperbolehkan mengirimkan dua kelompok. ”Awalnya Gejog Lesung ini dimainkan warga sebagai teman begadang. Biasanya dimainkan di pos ronda hingga tengah malam. Kemudian pemerintah desa mencoba mewadahinya untuk dikembangkan, sehingga memiliki nilai jual lebih tinggi,” ucap Irmawan.
Dia menambahkan, selama ini yang menyaksikan Gejog Lesung tidak hanya wrga Klaten, tetapi juga Gunungkidul. Bahkan datang ke Barepan untuk belajar memainkan Gejog Lesung. Sehingga berpotensi menjadi desa wisata.
”Kami merintisnya sejak lima tahun lalu. Termasuk membangun patung Gejog Lesung yang ditempatkan di pojok alun-alun semakin mempertegas ikon kami,” ucapnya.
Mengangkat gejog lesung sebagai ikon desa juga telah memberikan dampak pada perekonomian Desa Barepan. Terutama bagi 84 pelaku UMKM yang berjualan di sekitar alun-alun. Mengingat warga dari luar daerah berdatangan yang ingin melihat dan belajar dari ikon Desa Barepan tersebut.
Sementara itu, salah seorang pelaku seni Gejog Lesung asal Desa Barepan, Ari Suryana, 45, menceritakan, kesenian tradisional itu berkembang sejak 2010. Tapi jauh sebelumnya warga setempat menggunakannya sebagai alat penumbuk padi tradisional. ”Hal yang perlu diperhatikan yakni mengeksplorasi, harmonisasi dan kekompakknya. Mengingat gejog lesung ini tidak bernada,” ucapnya. (ren/adi/dam) Editor : Damianus Bram