Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Perajin Gitar di Desa Bener Keluhkan Sepinya Penjualan

Damianus Bram • Senin, 22 Agustus 2022 | 15:50 WIB
TERUS BERTAHAN: Salah satu perajin gitar di Desa Bener, Kecamatan Wonosari sedang memperlihatkan produksi gitarnya. (ANGGA PURENDA/RADAR SOLO)
TERUS BERTAHAN: Salah satu perajin gitar di Desa Bener, Kecamatan Wonosari sedang memperlihatkan produksi gitarnya. (ANGGA PURENDA/RADAR SOLO)
KLATEN - Kasus Covid-19 di Klaten memang sudah terkendali tetapi dampaknya masih dirasakan perajin gitar di Desa Bener, Kecamatan Wonosari. Para perajin masih mengeluhkan sepinya penjualan. Hal itu sudah terjadi selama satu bulan terakhir ini.

“Waktu awal pandemi sebenarnya masih bisa jalan. Tapi justru satu bulan ini penjualan malah sepi. Tidak hanya saya saja tetapi juga perajin lainnya di Desa Bener juga merasakan,” ucap salah satu perajin gitar di Desa Bener, Budi Santoso, Sabtu (21/8).

Lebih lanjut, Budi menjelaskan, gara-gara sepinya penjualan itu membuatnya harus meliburkan sementara waktu tiga tenaga kerjanya. Langkah itu diambil guna menekan biaya yang harus dikeluarkan. Maka itu proses produksi gitarnya kini hanya dikerjakan seorang diri sambil mengharapkan ada pesanan yang masuk.

“Sepinya penjualan ini salah satunya karena disebabkan ada pemain baru yang melakukan penjualan secara online. Mereka menjual dengan harga terjangkau sehingga mengambil keuntungan minim. Tapi kan dikalikan dengan jumlah pesanan yang masuk,” ucap Budi.

Ia mengungkapkan, jika selama ini dirinya belum berani mencoba untuk melakukan penjualan gitar secara online. Mengingat dibutuhkan modal yang tidak kecil karena harus siap mengerjakan pesanan partai besar. Selama ini dirinya hanya melayani pesanan dari pengepul yang menurutnya sudah pasti.

“Ada juga yang saya jual lewat toko (pribadi). Tapi baru-baru ini. Kalau di jual lewat toko kan belum pasti sehingga lebih mengandalkan pengepul,” ucapnya.

Dirinya juga heran mengapa daya beli masyarakat setelah pandemi terkendali menjadi turun. Terutama untuk membeli produk gitarnya yang memiliki harga mulai dari Rp 200 ribu hingga Rp 1,5 juta. Tergantung bahan dan kerumitan pengerjaan karena dirinya juga menerima pesanan gitar custom.

Saat penjualan gitar sepi kini juga dipusingkan dengan harga beberapa bahan baku yang mahal. Budi mencontohkan, harga bahan melamin untuk pengecatan akhir gitar yang tadinya harga sekitar Rp 505.000 per 20 liter melambung menjadi Rp 800.000 per 2 liter. Begitu juga dengan tiner yang sebelumnya Rp 15.000 per liter kini menjadi Rp 20.000 per liter.

Kenaikan harga itu yang seharusnya perajin menyesuaikan harga jual. Mengingat ongkos produksi yang naik. Tapi tidak bisa melakukannya karena kondisi pasar saat ini sedang lesu.

“Kami harapkan juga ada bantuan dari pemerintah daerah. Terutama terkait pemasaran dari gitar yang diproduksi para perajin di Desa Bener ini,” ucapnya.

Sementara itu, Ketua RW 06, Desa Bener, Sumarlin, menjelaskan perkembangan desa tersebut menjadi pusat industri gitar di Klaten sejak 1997. Hal itu dipengaruhi oleh keberadaan industri gitar di Desa Ngrombo, Sukoharjo. Mengingat kedua daerah tersebut saling berdekatan.

“Pusat dari kerajinan gitar terutama di Dusun Bogor. Setidaknya total ada 25 perajin yang awalnya aktif. Tetapi dikarenakan pandemi menyebabkan beberapa perajin memilih untuk libur produksi,” ucap Sumarlin.

Lebih lanjut, Sumarlin menjelaskan, bagi perajin yang memilih bertahan memproduksi gitarnya hanya untuk persedian di toko saja. Padahal dulunya para perajin gitar desa setempat bisa mengekspor ke Maroko dan Italia. Hal itu membuat keprihatinan tersendiri baginya untuk kondisi industri gitar di Desa Bener yang sedang lesu.(ren/dam) Editor : Damianus Bram
#Industri Gitar #Kampung Pembuat Gitar #Perajin Gitar di Desa Bener #Perajin Gitar #desa bener #gitar