“Menjadi potensi desa. Turun temurun dari generasi ke generasi,” ujar Kepala Desa Krakitan, Nurdin, Jumat (26/8).
Warga Krakitan menjual es puter sejak 1980-an. Mampu mengurangi pengangguran di desa setempat. Tapi sayangnya, mulai krisis generasi penerus.
“Pemerintah desa berupaya melestarikan es puter ini. Bisa dikembangkan pengemasan dan sistem penjualannya agar tidak kalah dengan es krim modern. Dikolaborasikan dengan dinas koperasi, ukm dan perdagangan (DKUKMP),” katanya.
Nurdin menginginkan es puter tetap mempertahankan kemasannya secara tradisional. Salah satunya menyajikan dengan roti tawar. Bukan menggunakan gelas berbahan plastik.
Warijo, 62, warga Desa Krakitan yang menjual es puter sejak 1977 di Jakarta memutuskan pulang kampung pada 2019 dan tetap melanjutkan usahanya.
“Es krim biasanya habis dalam satu hingga tiga hari. Harganya Rp 1.000 sampai Rp 5.000. Kalau habis, pendapatan sekitar Rp 400 ribu,” ungkapnya.
Es puter ala Warijo dibuat secara tradisional. Siapa saja yang ingin belajar membuat jajanan ini, pintu rumah lanjut usia tersebut selalu terbuka lebar. “Saya ingin generasi muda meneruskan usaha ini,” harapnya.
Sebab itu, ketika Pemerintah Desa Krakitan ingin mengembangkan es dung-dung, Warijo sangat mendukungnya. (ren/wa/dam) Editor : Damianus Bram