”Jadi serangan hama ini tidak tersentra pada satu tempat, tapi di beberapa titik. Sehingga terkadang tidak terlihat kalau terserang hama. Ketahuannya kalau tanamannya sudah agak dewasa,” ucap Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Bidang (Kabid) Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan DKPP Klaten Lilik Nugraharja, Kamis (20/10).
Lilik menjelaskan, meski terdapat serangan hama, tetapi tidak sampai menganggu produktivitas dari tanaman padi saat ini. Luas tanam untuk tanaman padi dari Januari-September 2022 sekitar 50.868,8 ha. Sebagai perbandingan pada 2021 untuk luas tanamnya 73.653,6 ha.
Sementara itu, produksi padi dari Januari-September 2022 mencapai 388.798 ton gabah kering giling (GKG). Sebagai perbandingan pada 2021 untuk produksi padi di Kota Bersinar mencapai 479.037 ton GKG. Meski tidak mempengaruhi luas tanam dan produksi padi, tetapi serang hama tetap dipantau. Sehingga bisa terkendali.
”Memang anomali cuaca saat ini menjadi perkembangan organisme penganggu tumbuhan (OPT) menjadi cepat berkembang. Maka itu saya harapkan petani mengawalnya sejak awal. Rajin-rajin memeriksa ke lahan tanaman padinya,” ucapnya.
Kepala DKPP Klaten Widiyanti menambahkan, dalam mengendalikan serangan hama, tidak menggunakan obat-obatan mengandung zat kimia. Meski begitu, hal itu bisa ditempuh petani tetapi sebagai upaya terakhir.
”Hama itu tidak bisa dihilangkan 100 persen karena mahkluk hidup. Tapi perkembangannya perlu dikendalikan. Saya harapkan petani melakukan pengamatan terhadap tanaman padi masing-masing,” ucapnya.
Widiyanti menjelaskan, petani memiliki peran yang penting dalam mengendalikan hama wereng. Jangan hanya mengadalkan petugas dari DKPP saja saat melakukan pengecekan. Mulai dari pembibitan hingga penanaman untuk memastikan tidak ada serangan hama. (ren/adi/dam) Editor : Damianus Bram