Dari pantauan Jawa Pos Radar Solo di lapangan, Senin (24/10), saat memasuki gedung milik pemkab ini tampak lantai lapangan berbahan dari parket kayu mengelupas di beberapa titik.
Pengelola melakukan penanganan darurat dengan ditambal kertas kardus, hingga parket kayu yang hilang ditambah oleh kayu jenis lain. Kondisi ini jelas dikeluhkan dari sejumlah pengguna dari berbagai cabang olahraga (cabor) yang selama ini rutin menggunakan GOR. Kalau digunakan untuk pertandingan bulu tangkis hingga bola basket yang pemainnya mempraktikkan gerakan yang cepat, tentu kondisi lapangan ini sangat membahayakan.
Kerusakan juga terjadi pada bagian kaca yang mengelilingi GOR. Pengelola mengantisipasinya dengan hanya ditutup dengan kain. Hal itu dilakukan untuk menghalau angin masuk ke gedung, sehingga tidak mengganggu ketika digunakan untuk bermain bulu tangkis.
Kondisi atas juga sama memprihatinkannya, karena banyak titik bocor di atap gedung, yang tentu sangat mengganggu kalau hujan turun.
“Setidaknya ada 10 titik pada bagian atap yang bocor. Kalau untuk lantai lapangannya berukuran 20x30 meter. Pernah juga dilakukan rehab, tetapi mengalami kerusakan kembali. Sehingga kami lakukan perbaikan semaksimal mungkin saja,” ucap Petugas Kebersihan GOR Gelarsena Klaten Joko kepada Jawa Pos Radar Solo, Senin (24/10).
Lebih lanjut, Joko menjelaskan, GOR Gelarsena selama ini digunakan 15 klub dari berbagai cabor. Mulai dari olahraga beladiri, bulu tangkis, hingga bola basket. Dia mengakui, mendapatkan masukan dari pengguna agar segera direhab secara menyeluruh.
Joko menjelaskan, GOR ini diresmikan pada 1984 silam. Dari sisi usia jelas sudah termasuk bangunan tua yang memang sudah waktunya untuk direhab. Namun soal rehab tentu jadi kewenangan pemkab.
"Terakhir kali GOR Gelarsena digunakan untuk turnamen olahraga tenis meja pada akhir pekan lalu. Kondisinya ya seperti ini, apa adanya,” ungkapnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan Kepemudaan Pariwisata dan Olahraga (Disbudparpora) Klaten Sri Nugroho mengungkapkan, wacana rehab GOR ini sudah dirancang. Rencananya akan dimulai tahun depan.
“Untuk kebutuhan rehab GOR sekitar Rp 8 miliar. Kami terus mengusahakan dengan memanfaatkan sumber lain dari provinsi atau dana alokasi khusus (DAK),” jelasnya.
Sementara itu Penjabat Sekretaris Daerah (Pj Sekda) Klaten Jajang Prihono menjelaskan, jika rehab terhadap GOR Gelarsena menjadi skala prioritas untuk dialokasikan pada APBD 2023. Meski begitu, pihaknya belum bisa memberikan kepastian terkait anggaran yang telah dialokasikan.
“Akan kami cek terlebih dahulu (alokasi yang dianggarkan). Tetapi masuk menjadi skala prioritas. Ini sesuai permintaan dari bupati,” ujarnya.
Lebih lanjut, Jajang mengakui jika GOR memang sudah tidak layak lagi untuk menggelar event daerah maupun nasional. Untuk digunakan sebagai venue konser pun dianggap kurang layak. (ren/nik/dam) Editor : Damianus Bram