Berdasarkan hasil kajian perhitungan yang dilakukan DLH untuk produksi sampah yang dihasilkan warga Klaten setiap harinya mencapai 580 ton. Hal itu berdasarkan perhitungan dari jumlah penduduk dikali rata-rata sampah yang diproduksi yakni 0,5 Kg.
“Berdasarkan hasil kajian perhitungan yang kami lakukan sampah paling banyak 20 persen adalah organic. Kemudian sampah plastiknya sekitar lima persen. Sisanya ya macam-macam seperti kaca dan lainnya,” ucap Kepala DLH Klaten Srihadi, Kamis (27/10).
Lebih lanjut, Srihadi menjelaskan, jika sampah yang ditangani DLH di Tempat Pengelolaan Akhir Sampah (TPAS) Troketon mencapai 96 ton per harinya. Maka itu, untuk pengurangan sampah yang diangkut ke TPAS melalui bank sampah dan Tempat Pengelolaan Sampah Reuse, Reduce dan Recyle (TPS3R).
Ada pun bank sampah yang saat ini aktif terdapat 60 bank sampah. Baik merupakan binaan dari DLH, mandiri maupun sekolah. Sementara itu ada 28 TPS3R yang tersebar di sejumlah kecamatan di Klaten.
“Untuk titik akhirnya dari kongres Bank Sampah yakni komitmen semua pihak yang mewakili dalam mengelola sampah. Nantinya akan disampaikan dalam bentuk maklumat. Harapannya masyarakat menjadi mandiri dalam pengelolaan sampah,” ucap Srihadi.
Dalam acara tersebut juga digelar pameran produk kreasi bank sampah. Termasuk pemaparan dan sosialisasi persampahan. Pelatihan pembuatan produk kreasi berbahan sampah hingga fashion show bahan daur ulang sampah. Ditambah digelar berbagai lomba seperti bank sampah terbaik, TPS3R terbaik, desa mandiri sampah.
Sementara itu, Bupati Klaten Sri Mulyani mengungkapkan, jika sampah bisa menjadi persoalan serius apabila tidak dikelola dengan baik. Maka itu, pihaknya meminta untuk bisa menanamkan sejak dini perilaku membuang sampah pada tempatnya sejak dini.
“Maka itu kami gerakan gotong-royong di lingkungan Pemkab Klaten setiap Jumat. Begitu juga pada Minggu untuk seluruh warga Klaten. Diharapkan bisa menjadi gerakan bersama,” ucap Mulyani.
Dirinya pun berharap agar acara seperti kongres bank sampah tersebut kedepannya ada keberlanjutan. Termasuk bisa dikemas lebih menarik dan edukatif sehingga bisa disampaikan secara luas. Apalagi didukung dengan sejumlah sekolah adiwiyata di Kota Bersinar. (ren/dam) Editor : Damianus Bram