Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner

Petani Klaten Siap Hadapi Ancaman Krisis Pangan

Damianus Bram • Kamis, 3 November 2022 | 03:00 WIB
PRODUK LOKAL: Bupati Klaten Sri Mulyani (kanan) meninjau stand di acara agro expo KTNA di halaman kantor DKPP Klaten, Rabu (2/11). (ANGGA PURENDA/RADAR SOLO)
PRODUK LOKAL: Bupati Klaten Sri Mulyani (kanan) meninjau stand di acara agro expo KTNA di halaman kantor DKPP Klaten, Rabu (2/11). (ANGGA PURENDA/RADAR SOLO)
RADARSOLO.ID – Para petani di Klaten siap menghadapi ancaman krisis pangan yang diprediksi terjadi tahun depan. Petani yang tergabung dalam Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Klaten sudah melakukan berbagai persiapan. Mereka optimistis bisa melewati krisis tersebut.

“Untuk menghadapi krisis pangan, para petani menanam padi. Memang di Klaten ini cocoknya padi, selain juga jagung,” ucap Ketua KTNA Klaten Maryanta saat ditemui di sela-sela acara Pembukaan Agro Expo KTNA di halaman kantor Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Klaten, Rabu (2/11).

Lebih lanjut, Maryanta memastikan para petani di Klaten tetap bersemangat meski iklim saat ini tidak mendukung untuk musim tanam.

Ada kendala mengenai pupuk juga, tetapi para petani tetap bersemangat menyiapkan ketahanan pangan. Meski di lapangan juga menemui problem lainnya, seperti serangan hama hingga kesiapan teknologi pada musim tanam sampai panen.

Upaya untuk menuju kemandirian pangan dengan mengembalikan kesuburan tanah di Kota Bersinar terus dipantau. Total dari 26 kecamatan, terdapat 18 kecamatan yang tanahnya mengalami kerusakan. Selama tiga tahun terakhir, KTNA berusaha mengembalikan kesuburan tanah dengan menggunakan pupuk organik.

“Tanah yang rusak itu pH tanahnya di bawah 5. Kemudian tanahnya juga bantat. Untuk mengembalikan kesuburan tanah itu dengan menggunakan pupuk organik padat,” ucap Maryanta.

Pelatihan membuat pupuk organik padat ke para petani di Klaten terus diintensifkan. Harapannya bisa diterapkan di lahannya masing-masing, terutama di 18 kecamatan tersebut. Melalui kesuburan tanah, diharapkan  bisa meningkatkan produktivitas padi yang ditanam para petani.

Perbaikan terhadap rusaknya tanah memang menjadi fokus utama KTNA dalam menghadapi ancaman krisis pangan. Mengingat produktivitas padi diakuinya mengalami penurunan 1 ton gabah kering panen (GKP) per hektare. Dari sebelumnya setiap hektarenya bisa mencapai 7 ton-8 ton GKP, sekarang menjadi 6 ton-7 ton GKP.

“Untuk membangkitkan potensi KTNA di kecamatan, kami juga mengadakan agro expo selama dua hari (2-3 November). Menampilkan berbagai produk dari kegiatan hasil usaha tani. Total ada 45 stand yang ikut serta. Sedangkan jumlah petani di Klaten sekitar 300 ribu orang,” tambahnya.

Sementara itu, Bupati Klaten Sri Mulyani mengungkapkan sub sektor tanaman pangan di Klaten memiliki peranan penting dan strategis dalam pembangunan pertanian. Tidak hanya di Jawa Tengah tetapi juga di tingkat nasional.

“Hal inilah yang mendorong dalam pembangunan tanaman pangan dengan tetap melanjutkan dan menyempurnakan program yang ada. Termasuk bisa ditingkatkan di tahun-tahun berikutnya. Yakni peningkatan ketahanan pangan, pengembangan agrobisnis maupun peningkatan kesejahteraan petani,” ucap Mulyani.

Lebih lanjut, melalui kebijakan tersebut diharapkan produktivitas pertanian meningkat. Baik secara kualitas dan kuantitas, sehingga mampu berdaya saing dan bernilai tambah. Khususnya bagi peningkatan pendapatan dan meningkatkan kesejahteraan para petani. (ren/nik/dam) Editor : Damianus Bram
#Ancaman Krisis Pangan #KTNA Klaten #Petani Klaten #DKPP Klaten #Petani di Klaten #bupati klaten sri mulyani #Agro Expo KTNA