RADARSOLO.ID - Festival Jenang yang digelar di Bumi Perkemahan Tirta Mulya, pada Sabtu (5/11) menyedot perhatian masyarakat. Ada 1.000 kap yang disediakan terdiri dari 10 jenis jenang. Diproduksi oleh warga dari 10 RW di Desa Kalikotes, Kecamatan Kalikotes untuk pengunjung yang datang dengan membawa kupon.
Festival Jenang memang menjadi salah satu gelaran dalam acara srawung budaya yang digelar pemerintah desa setempat. Kedepannya, jenang akan menjadi ikon sekaligus oleh-oleh bagi wisatawan usai mengunjungi Kalikotes.
“Kami memberdayakan kelompok PKK dan pokdarwis serta posyandu hingga akhirnya terkumpul sebanyak 1.000 kap jenang. Kami bagikan kepada masyarakat Kalikotes maupun tamu yang hadir,” ucap Kepala Desa (Kades) Kalikotes, Ponidi kepada Jawa Pos Radar Solo.
Lebih lanjut, Ponidi mengharapakan gelaran Festival Jenang nantinya akan terus berlanjut. Bahkan akan dijadikan ikon sehingga bisa dimasukan dalam paket wisata ketika ada yang berkunjung ke Kalikotes.
Seperti diketahui Kalikotes memiliki potensi wisata berupa panen sayuran yang ditanam dengan sistem hidroponik. Begitu juga bumi perkemahan yang memiliki luas sekitar 1,6 hektar yang merupakan tanah kas desa. Hadirnya jenang bisa menjadi penambah destinasi wisata di Kalikotes.
“Jadi nanti bisa saja pengunjung usai memanen sayur itu bisa diarahkan ke produksi jenang. Bisa dijadikan oleh-oleh bagi wisatawan. Tetapi nantinya tidak hanya jenang basah saja. Maka itu perlu dilaksanakan pelatihan,” tambah Ponidi.
Pilihannya untuk mengembangkan jenang sebagai ikon wisatanya karena sudah menjadi kuliner tradisional. Terutama bagi masyarakat Jawa yang masih menggunakan jenang dalam berbagai kegiatan tradisi. Ponidi pun ingin mengenalkan kepada wisatawan segala hal yang berkaitan dengan jenang.
Sementara itu, salah satu pembuat jenang asal Desa Kalikotes Sri Mulyani, 56, mengungkapkan jika dirinya sudah lama memproduksi jenang setiap harinya. Mulai dari jenang sumsum, jenang grendul dan jenang gempol sesuai dengan pesanan.
“Kalau setiap harinya yang pasti jenang sumsum bisa sampai 30 kap. Sedangkan untuk pesanan sudah pasti datang dari kader posyandu setiap bulannya,” ucapnya.
Soal harga, Sri Mulyani mengungkapkan jika cukup terjangkau. Mulai dari harga Rp 3.000 sampai Rp 3.500 per kapnya. Terlebih lagi bisa menjadi pemberian makanan tambahan (PMT) pada balita karena mengandung karbohidrat dan protein.
“Untuk sementara ini saya menjualnya hanya di rumah. Belum sampai ke pasar tradisional. Soalnya pada beli dengan datang langsung ke rumah,” ucap Sri Mulyani.
Ia mengungkapkan, di Desa Kalikotes sendiri penggunaan jenang sumsum dalam berbagai kegiatan tradisi masih dilestarikan. Salah satunya usai menggelar pesta pernikahan biasanya membagikan jenang sumsum kepada warga.
“Rencana dari pemerintah desa sendiri akan mengembangkan jenang ini di setiap RW-nya. Memang banyak yang membuat dan menjual aneka jenang ini,” pungkasnya.(ren/dam)
Editor : Damianus Bram