Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Sebanyak 55 Dalang Meriahkan Pagelaran Wayang Kulit

Damianus Bram • Rabu, 16 November 2022 | 02:39 WIB
NGURI-URI BUDAYA: Parade seni wayang kulit di halaman Gedung Sunan Pandanaran RSPD Klaten. (ANGGA PURENDA/RADAR SOLO)
NGURI-URI BUDAYA: Parade seni wayang kulit di halaman Gedung Sunan Pandanaran RSPD Klaten. (ANGGA PURENDA/RADAR SOLO)
RADARSOLO.ID - Dewan Kesenian (Wankes) dan Persatuan Pedalang Indonesia (Pepadi) Kabupaten Klaten menyelenggarakan parade seni wayang kulit. Gelaran ini untuk memperingati Hari Wayang Dunia ke-VIII. Pagelaran wayang kulit tersebut digelar selama 5 hari mulai dari 13, 14, 17, 18 dan 19 November dengan menampilkan 55 dalang.

Ketua Panitia Parade Seni Wayang Kulit Suwito Radyo dalam sambutannya menjelaskan, jika Kabupaten Klaten kondang dengan julukan Kota Dalang. Menurutnya, pemerintah dan masyarakat memiliki perhatian khusus bagi upaya perlindungan dan pemanfaatan seni budaya khususnya di bidang pedalangan.

”Tema peringatan tahun ini adalah Mawayang Hayu yang memiliki konsep wayang sebagai sumber kedamaian. Wayang hendaknya memposisikan keragaman dan perbedaan karya seni menjadi pilar penyangga bangsa. Dalam mewujudkan keselarasan dan keharmonisan negara yang kuat,” ucap Suwito Radyo, Senin (14/11).

Lebih lanjut, dia menjelaskan wayang selain menjadi sarana komunikasi dan edukasi, juga harus mampu menjadi pemersatu dari keniscayaan perbedaan budaya. Harapannya tetap terpelihara semangat patriotisme dan nasionalisme yang mengapresiasi keberagaman untuk kepentingan pembangunan.

Sementara itu, Wakil Bupati Klaten Yoga Hardaya yang hadir dalam gelaran wayang kulit itu mengungkapkan, sudah pantas Bangsa Indonesia bangga bersyukur telah diwarisi mahakarya budaya yang telah diakui dunia, yakni wayang.

”Melalui peringatan ini wayang selalu terjaga kelestariannya. Peringatan ini sebagai langkah strategis dalam rangka membumikan wayang di bumi nusantara. Sekaligus mengangkat setinggi-tingginya derajat wayang di tingkat dunia,” ucapnya.

Selanjutnya, Yoga menambahkan sebagaimana diketahui bahwa pada 7 November 2003, UNESCO telah mengakui wayang Indonesia sebagai mahakarya dunia. Maka dari itu, melalui keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 30 Tahun 2018, pemerintah menetapkan 7 November sebagai Hari Wayang Nasional.

“Keduanya saling menguatkan dalam rangka satu tujuan. Yakni wayang tetap lestari, berkembang dan agung tanpa meninggalkan adi luhurnya,” ucap Yoga.

Dia pun berharap, melalui pagelaran wayang kulit tersebut, khususnya bagi generasi muda harus mendekatkan diri dengan akar budaya daerah. Acara pentas kolaborasi itu juga menjadi salah satu bukti komitmen Pemkab Klaten dan kepedulian para seniman dalam melestarikan kebudayaan tersebut.

“Semangat kecintaan kebudayaan tersebut terus dijaga dan dipupuk untuk sepatutnya dikenalkan dan diwariskan kepada anak cucu. Semoga kegiatan ini dapat terlaksana dengan lancar sehingga makna dari kebudayaan yang dipentaskan dapat terserap oleh masyarakat Klaten,” ucapnya.

Dalam kegiatan tersebut diserahkan penghargaan kategori pelestari wayang, yang terdiri dari penghargaan dalang anak, dalang mudah dan dalam sepuh. Ada pula penghargaan yang diberikan kepada dalang ruwat, dalang perempuan, penata wayang, penyungging wayang, pesinden wayang kulit, dan pengrawit muda.

Penghargaan juga diberikan untuk kategori pengembangan cipta karya wayang yang terdiri dari wayang tauhid, wayang golek dan wayang kancil. Ada pula wayang relief, wayang sandosa, wayang sabdo, wayang berbicara, wayang sampah, wayang srawung, wayang babat, dan wayang tutur. (ren/nik/dam) Editor : Damianus Bram
#Pagelaran Wayang Kulit #Pepadi Klaten #Hari Wayang Dunia #Wakil Bupati Klaten Yoga Hardaya