Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

Batik Ciprat Karya Penyandang Disabilitas Desa Kemudo, Prambanan

Damianus Bram • Kamis, 8 Desember 2022 | 15:30 WIB
BERDAYAKAN WARGA: Kades Kemudo Hermawan Kristanto tunjukan batik ciprat karya penyandang disabilitas di showroom Kantor Desa Kemudo. (ANGGA PURENDA/RADAR SOLO)
BERDAYAKAN WARGA: Kades Kemudo Hermawan Kristanto tunjukan batik ciprat karya penyandang disabilitas di showroom Kantor Desa Kemudo. (ANGGA PURENDA/RADAR SOLO)
RADARSOLO.ID - Pemerintah Desa Kemudo, Kecamatan Prambanan terus mengembangkan batik ciprat karya penyandang disabilitas desa setempat. Ada 15 orang yang masih aktif, bahkan kini karyanya digunakan seragam sejumlah instansi perkantoran.

ANGGA PURENDA, Klaten, Radar Solo

Pengembangan batik ciprat oleh disabilitas sudah dilakukan sejak satu tahun yang lalu. Awalnya mereka mendapatkan pelatihan di Balai Kartini, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah yang difasilitasi Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinsos dan P3PPAKB) Klaten.

”Kami mendampingi dalam proses produksinya. Setidaknya ada empat petugas yang kami siapkan. Dalam satu minggu proses produksi batik ciprat dilakukan selama tiga di kompleks kantor desa,” kata Kepala Desa (Kades) Kemudo Hermawan Kristanto, Rabu (7/12).

Hermawan menjelaskan, kondisi disabiltas yang memproduksi batik ciprat beragam. Mulai dari disabilitas fisik, intelektual hingga orang dengan gangguan jiwa (ODGJ). Meski begitu, dalam proses produksinya tidak bisa dipaksakan, sehingga kondisi psikologisnya tetap diperhatikan.

Dalam proses produksinya, setiap disabilitas mampu membuat 20 potong hingga 30 potong kain batik ciprat per harinya. Meski begitu, jumlah kain yang diproduksi juga bergantung dengan kondisi cuaca. Mengingat dalam proses pengeringan menggantungkan pada sinar matahari.

”Dari pemdes dan PKK Desa Kemudo mendukung penuh atas karya batik ciprat dari disabilitas ini. Bahkan hasil karyanya kami pamerkan pada showroom di kantor desa. Jadi ketika ada tamu yang datang bisa melihat-lihat maupun membeli batik ciprat,” ucap Hermawan.

Soal harga, bervariasi mulai dari Rp 120 ribu hingga Rp 300 ribu per potong untuk ukuran kain 2 meter x 1,25 meter. Bahkan ada yang pernah dibeli dengan harga tinggi sekira Rp 750 ribu per potongnya. Lantaran motifnya yang unik dan sempat dikira produk gagal akibat kena guyuran hujan saat proses dijemur.

Produk batik ciprat karya disabilitas itu kini diminati para tamu yang mengunjungi Desa Kemudo. Pembeli berasal dari berbagai daerah, termasuk dari Kalimantan. Bahkan sudah dipesan menjadi seragam untuk Tim Penggerak PKK Kabupaten Klaten dan Kementerian ATR/BPN.

”Memang batik ciprat ini menjadi karya yang unik karena tidak bisa diulang. Apalagi dalam prosesnya tidak ada yang namanya gagal,” tambahnya.

Pekerja Sosial (Peksos) Dinsos dan P3PPAKB Klaten Subandi menambahkan, batik ciprat menjadi pilihan yang dinilai paling mudah untuk dikerjakan para disabilitas. Terlebih lagi secara bebas mengekspresikan karya melalui pewarna yang dicipratkan pada kain.

”Ini juga menjadi terapi. Menjadikan daya ingat para disabilitas terutama ODGJ bisa lebih tajam dan kreatif,” tandasnya. (*/adi) Editor : Damianus Bram
#Dinsos dan P3PPAKB Klaten #Desa Kemudo #Batik Karya Penyandang Disabilitas #Batik Ciprat