Seperti diketahui bakal ada delapan desa yang dilintasi proyek ini. Meliputi Desa Kranggan, Kecamatan Polanharjo, dan Desa Segaran, Kepanjen, dan Gatak, Kecamatan Delanggu. Begitu juga Desa Boto, Bentangan dan Duwet, Kecamatan Wonosari dengan total panjang 7,5 kilometer (km).
“Memang di wilayah utara seperti Delanggu, Polanharjo dan Wonosari ini dominan tanaman padi. Apalagi sumber pengairannya begitu melimpah sehingga bisa beberapa kali tanam. Dari perhitungkan kami ada 30 hektare sawah yang bakal terdampak, semoga belum final (rencana jalan tol lingkar),” ujar Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Klaten Widiyanti, kemarin.
Widiyanti berharap, proyek tol tersebut tidak mengenai lahan persawahan di Kota Bersinar. Mengingat luasan sawah dan tanam untuk tanaman padi terus berkurang. Sebelumnya ada proyek Jalan Tol Solo-Jogja yang memakan 375 hektare lahan persawahan di 11 kecamatan.
Dia mengungkapkan, luas lahan yang terdampak jalan tol lingkar bisa bertambah ketika ada permukiman warga juga terkena proyek tersebut.
“Kalau dibuat rata-rata produksinya 5 ton gabah kering giling (GKG) per hektare, sementara dalam setahun bisa tiga kali tanam. Jadi potensi produksi gabah yang hilang akibat jalan tol ini bisa sampai 1.000 ton GKG per tahun sehingga kami harus mencari penggantinya,” ucap Widiyanti.
Diakui, sebagai organisasi perangkat daerah yang berkewajiban menyediakan pangan, DKPP sangat berat apabila ada lahan persawahan yang terdampak tol lagi. Belum lagi dampak lainnya seperti saluran irigasi setelah adanya jalan tol tentu akan berubah.
“Kami terus melakukan monev terhadap dampak pembangunan Jalan Tol Solo-Jogja. Memang sampai saat ini belum ada pengaruh yang signifikan karena pengerjaan fisiknya baru beberapa persen,” ucapnya.
Sebagai informasi, luas sawah yang ditanami padi di Klaten saat ini terdapat 31 ribu hektare. Produksinya apabila setara beras bisa mencapai 270 ribu ton per tahun. Sementara kebutuhan konsumsi untuk di Klaten dalam setahun bisa mencapai 115 ribu ton beras sehingga masih surplus.
“Tapi kan tidak hanya mencukupi kebutuhan Klaten saja tetapi juga menjadi penyangga pangan provinsi maupun nasional. Belum tentu juga di daerah lainnya mengalami surplus,” ucapnya.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Penelitian dan Pengembangan (Bappeda-Litbang) Klaten, Pandu Wirabangsa telah memberikan masukan terhadap konsultan dari jalan tol lingkar tersebut. Kaitannya soal lahan persawahan yang terdampak, saluran irigasi hingga aspek teknis lainnya.
“Kami memberikan masukan untuk bisa menjaga aspek teknis. Kemudian dampak pada ketahanan pangan dapat diminimalisir,” ujarnya. (ren/bun/dam)
Persawahan di Klaten
31.000 hektare
- Luas sawah ditanami padi
270.000 ton
- Produksi setara beras per tahun
115.000 ton
- Kebutuhan konsumsi beras di Klatn
255.000 ton
- Surplus untuk menopang pangan Jateng dan nasional
Persawahan Berpotensi Terlibas Tol Lingkar
- Luas lahan 30 hektare
- Tersebar di Delanggu, Polanharjo dan Wonosari