Kepala Bidang (Kabid) Peternakan dan Kesehatan Hewan DKPP Klaten Triyanto menjelaskan, puluhan ekor sapi yang suspek LSD itu tersebar di sembilan kecamatan. Tetapi ada tiga kecamatan yang paling banyak ditemukan kasus LSD meliputi Tulung, Jatinom dan Kemalang.
”Untuk penanganannya dilakukan dengan berbagai cara. Mulai dari pemberian obat, menjaga kebersihan kandang hewan ternak hingga pemisahan dengan sapi yang sehat. Termasuk penyemprotan disinfektan dan obat anti lalat di sekitar kandang, karena penyebarannya dari gigitan lalat,” ucap Triyanto kepada Jawa Pos Radar Solo, Kamis (26/1/2023).
Triyanto menjelaskan, salah satu ciri-ciri sapi yang terkena LSD yakni muncul bitnik-bintik pada kulitnya. Apabila terdapat indikasi tersebut, segera menghubungi dokter hewan terdekat. Harapannya tertangani dengan cepat dan tepat sehingga dapat segera sembuh.
Selain itu, pihaknya juga melakukan vaksinasi LSD bagi hewan ternak sapi. Penyebaran vaksi diberikan di lima pusat kesehatan hewan (puskeswan). Yakni Puskeswan Jatinom, Karangnongko, Jogonalan, Trucuk, dan Puskeswan Kota. Total sudah ada 2.765 dosis vaksi yang telah disebarkan di puskeswan tersebut.
”Kami imbau juga kepada peternak kalau misalnya hendak melakukan transaksi jual beli ternak tanya surat vaksinnya. Saya harapkan peternak lebih hati-hati dalam membeli. Sekalipun sapi yang sembuh dari LSD masih layak untuk diperjualbelikan karena tidak menular ke manusia,” ucapnya.
Kepala Pasar Hewan Prambanan Kusno Tri Juniyanto menjelaskan, setiap kali ternak masuk ke pasar hewan akan dilakukan pemeriksaan terlebih dahulu oleh petugas kesehatan hewan dan dari pasar sendiri. Hal ini untuk memastikan kondisi kesehatan ternak yang hendak diperjualbelikan.
”Sampai saat ini di pasar hewan belum pernah ditemukan sapi yang terjangkit LSD. Apalagi Jumat (27/1/2023) akan diadakan vaksin LSD secara serentak,” ucapnya.
Tri menegaskan, apabila sampai ada terindikasi LSD tidak diperbolehkan memasuki Pasar Hewan Prambanan. Nantinya akan diminta balik untuk segera ditangani dengan obat hingga dilakukan vaksiansi. Hal itu dilakukan untuk mencegah penyebaran LSD di pasar hewan. (ren/adi/dam) Editor : Damianus Bram