“Pada Februari ada 7 ribu hektar dan Maret 12 ribu hektar sehingga akan panen raya. Sedangkan kebutuhan beras warga Klaten setiap bulannya 9.400 ton. Sebenarnya sudah bisa dicukupi dari luasan panen sekitar 2.500 hektar,” ucap Kepala DKPP Klaten, Widiyanti, Rabu (8/2/2023).
Lebih lanjut, Widiyanti menjelaskan, dengan luasan 19 ribu hektar yang panen selama dua bulan itu setara 74 ribu ton beras. Maka itu, untuk kebutuhan warga Klaten selama 7 bulan kedepan dipastikan aman. Pihaknya pun meminta tidak perlu risau dengan ketersediaan pangan khususnya untuk beras.
Diakuinya, di tengah ketersediaan beras yang aman, untuk harganya di pasaran mengalami kenaikan. Meski begitu, Widiyanti menilai hal itu justru menguntungkan bagi petani karena meningkatkan pendapatannya. Harapannya juga bisa membantu dalam mengentaskan kemiskinan.
“Tapi di satu sisi, beras ini di konsumsi secara umum. Bagaimana petani tetap mendapatkan keuntungan tetapi harganya bisa terjangkau. Memang menjadi delima terkat pangan ini, di satu sisi bagaimana pendapatan petani meningkat tetapi konsumen bisa mendapatkan harga yang pas,” ucapnya.
Widiyanti menjelaskan, apabila harga beras di pasaran mengalami kenaikan signifikan dan tidak terkendali bisa dilakukan operasi pasar. Pihaknya akan melakukan koordinasi dengan Bulog terkait kebijakan tersebut. Melalui operasi pasar itu akan menjual beras sesuai dengan harga eceran tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah.
“Kalau pedagangnya sendiri sudah mendapatkan beras dengan harga yang lebih maka mereka menghitung lagi. Soalnya mereka berjualan juga pengen untung,” tambahnya.
Di sisi lain, guna memastikan ketersediaan beras aman dan harganya di pasaran tetap terjangkau, DKPP Klaten meningkatkan provitas dari tanaman padi itu sendiri. Harapannya supaya terjadi peningkatan produksi sehingga mampu meningkatkan pendapatan petani tetapi harganya tetap terjangkau oleh konsumen.
Sementara itu, salah satu pedagang sembako di Pasar Srago, Kelurahan Mojayan, Kecamatan Klaten Tengah, Sri Widianti, 50, menjelaskan untuk komoditas pangan khususnya beras memang mengalami kenaikan harga. Seperti beras IR 64 dari Rp 12.500 per Kg menjadi Rp 13.000 per Kg.
“Untuk kenaikan sudah terjadi selama satu minggu terakhir ini. Tetapi tetap ada pembeli,” ucap Sri Widianti.
Dari pantauan Jawa Pos Radar Solo, untuk beras menthik wangi dan rojolele srinuk di pasar tradisional tersebut tetap diminati pembeli. Meski mengalami kenaikan harga dari Rp 13.000 per Kg menjadi Rp 15.000 per Kg.(ren/dam) Editor : Damianus Bram