Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

DKPP Klaten Bakal Perluas Penanaman Rojolele Srinuk hingga 1.000 Ha

Damianus Bram • Rabu, 15 Februari 2023 | 15:20 WIB
PRODUK LOKAL: Sejumlah petani tampak sedang menanam padi di Desa Sribit, Kecamatan Delanggu, Selasa (14/2/2023). (ANGGA PURENDA/RADAR SOLO)
PRODUK LOKAL: Sejumlah petani tampak sedang menanam padi di Desa Sribit, Kecamatan Delanggu, Selasa (14/2/2023). (ANGGA PURENDA/RADAR SOLO)
RADARSOLO.ID – Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Klaten menargetkan luas tanam padi rojolele srinuk 1.000 hektare (ha) tahun ini. Hal ini merespons permintaan di pasaran yang cukup tinggi.

”Kami menargetkan minimal untuk luas tanamnya 1.000 hektare. Tetapi harus dihubungkan dengan jejaring pasar juga. Jangan hanya yang penting menanam saja, kami juga sedang berproses kerjasama dengan Bulog,” kata Kepala DKPP Klaten Widiyanti, Selasa (14/2/2023).

Widiyanti menjelaskan, dari luas tanam 1.000 ha, akan memproduksi 6.500 ton setara beras. Menurutnya, jumlah itu lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan aparatur sipil negara (ASN) di lingkungan Pemkab Klaten yang diwajibkan membeli beras premium tersebut. Tahun ini capaian tanam padi rojolele srinuk baru 700 ha.

”Sebenarnya dengan luas tanam 300 ha itu sudah bisa memenuhi beras rojolele srinuk untuk para ASN. Sedangkan sisanya bisa dijual di pasaran, sehingga diharapkan bisa meningkatkan pendapatan para petani,” tambahnya.

Widiyanti menegaskan, tidak ada kelangkaan beras rojolele srinuk di pasaran. Mengingat pada September 2022 terdapat 151 ha ditanami padi rojolele srinuk yang sudah panen pada Desember lalu. Sedangkan untuk penanaman pada Oktober 2022 telah panen pada Januari 2023.

Produk beras rojolele srinuk sebenarnya ada, tetapi permintaan pasar yang cukup tinggi. Meski beras premium itu banderol dengan harga sekira Rp 15.000 per kilogram, tetap diminati. Kondisi itu diharapkan bisa memacu para petani untuk bisa menanam padi rojolele srinuk.

”Kalau untuk harga beras premium itu tidak ada batasan harga eceran tertinggi (HET). Jadi kami tidak memiliki kewenangan untuk menentukan harganya. Sedangkan untuk beras yang medium ada HET-nya, mengacu pada permendagri. Begitu juga dengan pembelian harga gabah sudah di atur,” ucapnya.

Salah seorang pedagang beras rojolele srinuk di Pasar Srago, Kelurahan Mojayan, Kecamatan Klaten Tengah, Atik, 36, mengaku permintaan pembeli cukup tinggi. Bahkan setiap harinya, harus menyediakan beras premium itu sekitar 50 kg.

”Padahal harganya lebih tinggi dibandingkan dengan beras lainnya yakni Rp 15.000 per Kg. Tapi permintaan dari pembeli tetap tinggi juga,” tandasnya. (ren/adi/dam) Editor : Damianus Bram
#Beras Rojolele Srinuk #Rojolele  #rojolele srinuk #DKPP Klaten