Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Klaten Widiyanti menyebutkan ada 456 hektare lahan persawahan yang terdampak banjir pada Selasa (14/2/2023) lalu. Ditambah Jumat pagi (17/2/2023) terdapat 175 hektare yang terendam luapan Sungai Bengawan Solo.
“Untuk yang 456 hektare itu karena luapan Sungai Dengkeng, sedangkan tambahannya yang 175 hektare itu, tersebar di Desa Bener dan Sidowarno, Kecamatan Wonosari,” ucap Widiyanti saat ditemui Jawa Pos Radar Solo di tempat pengungsian Desa Bener, Kecamatan Wonosari, Jumat (17/2/2023).
Lebih lanjut, Widiyanti menjelaskan, tanaman padi yang terendam banjir itu bervariasi kondisinya. Mulai dari pembibitan, hingga siap panen. Meski begitu, pihaknya masih menanti perkembangannya selama tiga hari kedepan. Apakah masih terendam air, atau tidak.
“Kalau dalam waktu tiga hari sudah surut dan tanamannya tidak ambruk, ya tidak berpengaruh. Tetapi memang saat ini telah memasuki musim panen. Secara umum pada Januari ada 4.500 hektare, Februari terdapat 7.000 hektare, dan Maret ada 12.000 hektare yang hendak panen,” paparnya.
Widiyanti mengungkapkan, apabila akibat banjir, tanaman padinya mengalami puso, maka DKPP Klaten siap untuk mengambil beberapa langkah. Salah satunya mengajukan bantuan benih ke Pemerintah Provinsi Jawa Tengah (Jateng) dan pemerintah pusat untuk diberikan kepada petani yang lahannya terdampak banjir.
Di sisi lain, DKPP sebenarnya sudah menyarankan para petani untuk mengikuti asuransi usaha tani padi (AUTP). Hal itu untuk memberikan perlindungan kepada petani dari ancaman risiko gagal panen akibat terjadinya bencana seperti yang saat ini terjadi.
“Melalui AUTP, dengan adanya musibah seperti ini menjadikan petani bisa melanjutkan budi dayanya. Kami pun terus menghimbau kepada petani untuk mengikuti AUTP ini,” ucapnya.
Sementara itu, Bupati Klaten Sri Mulyani sempat mengunjungi lokasi pengungsian di Desa Bener, Kecamatan Wonosari. Termasuk mengecek dampak yang ditimbulkan luapan Sungai Bengawan Solo yang melanda pemukiman dan hamparan persawahan.
“Intensitas hujan saat ini masih tinggi sehingga perlu menjaga kebersihan. Harus peduli dengan kebersihan sehingga tidak mengakibatkan banjir yang lebih dahsyat lagi. Saya harap ini yang terakhir kali,” ucap Mulyani.
Lebih lanjut, Mulyani mengungkapkan, bahwa Klaten merupakan daerah rawan bencana banjir hingga erupsi Gunung Merapi. Maka itu pihaknya meminta masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaannya. Disampai pemkab selalu siap dengan dukungan BPBD Klaten serta relawan yang tangguh di setiap desa dalam menghadapi bencana. (ren/nik/dam) Editor : Damianus Bram