Adalah Rofianto, 34, salah seorang eks PKL Alun-Alun Klaten yang kini menetap di Jalan Bali. Dia mengaku sekarang pendapatan per hari mulai pulih.
“Alhamdulilah mulai ramai, meski belum sebesar pendapatan di alun-alun. Tapi para pelanggan sudah tahu, kalau saya sekarang jualan di Jalan Bali,” ujar pedagang sempol dan kentang goreng ulir tersebut.
Diakui Rofianto, para PKL Jalan Bali butuh waktu perjuangan ekstra, hingga kawasan tersebut seramai sekarang. Dia mengaku per hari bisa meraup pendapatan Rp 200 ribu-Rp 500 ribu. Di Jalan Bali, dia berjualan dengan dua gerobak.
“Tapi belum semua PKL di Jalan Bali ini kondisinya mulai pulih. Kebetulan saja saya berjualan makanan ringan. Sedangkan untuk makanan berat seperti PKL lesehan, belum seluruhnya pulih,” imbuh Rofianto yang tinggal di Kecamatan Klaten Tengah tersebut.
Ke depan, para PKL Jalan Bali berharap pemkab memberikan kelonggaran agar memperbolehkan wahana permainan masuk. Karena bisa menjadi daya tarik bagi pengunjung, terutama yang sudah berkeluarga. Di saat kedua orang tua menikmati kuliner, buah hatinya bisa bermain di wahan tersebut.
“Ada usulan lagi, supaya tenda pedagang disamakan. Supaya lebih tertata dan menarik. Termasuk penambahan tempat sampah yang masih kurang. Sebelumnya juga pernah ada hiburan musik. Tapi tidak terlalu berdampak signifikan terhadap penjualan,” bebernya.
Sementara itu, PKL lainnya Mujiyono, 65, sehari-harinya berjualan jagung bakar. Dia mengakui omzet yang didapatnya belum pulih 100 persen, seperti saat berjualan di Alun-Alun Klaten. Namun, dia tetap bersyukur masih bisa mengais rezeki di Jalan Bali.
“Pelanggan saya sudah banyak yang tahu, kalau pindah berjualan di Jalan Bali. Kalau ramai-ramainya, ya bisa mengantongi Rp 100 ribu semalam,” katanya. (ren/fer/ria) Editor : Syahaamah Fikria