Sumur kuno ini ditemukan di kedalaman 2,5 meter di bawah permukaan tanah. Tepatnya di lahan milik warga setempat, Semi, 52, dengan luas sekitar 1.000 meter persegi. Lahan tersebut selama ini digunakan untuk aktivitas perajin membuat batu bata merah dengan memanfaatkan tanah di lokasi tersebut.
Struktur dari sumur kuno itu dari bata merah, memiliki ketebalan 10 sentimeter (cm) dan panjang 30 cm serta berdiameter 118 cm. Tidak ada perekat antarbata merah pada sumur tersebut. Komunitas Pegiat Cagar Budaya (KPCB) Klaten yang melakukan pengecekan saat itu mengindikasikan peninggalan dari era Mataram kuno. Mengingat di lokasi yang sama pernah beberapa kali ditemukan guci dan gerabah.
”Selama ini ada laporan dari warga terdapat penemuan gerabah maupun perunggu. Lalu kami lakukan penyelamatan, yang untuk sementara dibawa di kediaman saya,” ucap Ketua Pemuda RW 14, Dusun Kropakan Pupun Prasetya kepada Radarsolo.com.
Pupun menjelaskan, di Dusun Kropakan setidaknya ada 30 perajin batu bata dengan memanfaatkan potensi tanah di daerah tersebut. Setiap kali melakukan penggalian sering kali menemukan objek diduga cagar budaya (ODCB) yang beragam. Baik dalam bentuk utuh maupun pecahan.
Pihaknya selama ini telah memberikan edukasi kepada perajin untuk melakukan pengamanan setiap kali menemukan objek diduga cagar budaya. Bisa dilaporkan kepadanya maupun disimpan terlebih dahulu. Kini jumlah objek diduga cagar budaya yang ditemukan dan diselamatkan sudah mencapai ratusan.
”Untuk benda-benda yang ditemukan itu seperti gerabah dan perunggu. Tapi bentuknya sudah terpisah (pecahan). Kalau yang utuh seperti priuk,” ucap Pupun yang aktif menelusuri jejak permukiman Mataram kuno di daerahnya itu.
Dia berharap, dengan berbagai penemuan ini bisa melestarikan warisan dari para leluhur. Bahkan dia berharap Dusun Kropakan bisa menjadi pusat penelitian. Dikarenakan berbagai penemuan artefak di wilayah tersebut.
”Jangan hanya terfokus ke Situs Liyangan yang ada di Temanggung saja. Tetapi juga di Kropakan ini. Harapan kami dari dinas terkait lebih peduli dengan penemuan ini. Bahkan bisa berpotensi menjadi wisata edukasi maupun wisata sejarah untuk mengenalkan kepada para pemuda agar lebih perhatian,” ucap Pupun.
Sementara itu, Pejabat Humas KPCB Klaten Hari Wahyudi menjelaskan, berbagai penemuan di Kropakan dinilainya sangat menarik. Mengingat, lokasi itu menjadi salah satu permukiman era Mataram kuno yang ada di Jawa Tengah.
”Berbeda dengan situs peribadatan seperti candi maupun bangunan pemujaan, situs permukiman ini banyak hal yang bisa dipelajari. Khususnya perilaku para leluhur tanah Jawa yang ditandai bukti-bukti artefak seperti sumur kuno dan benda-benda lainnya yang setiap harinya bertambah,” ucap Hari.
Pihaknya ikut melakukan pendataan terhadap obejk diduga cagar budaya yang ditemukan oleh warga. Termasuk melaporkan penemuan itu kepada Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). (ren/adi/ria) Editor : Syahaamah Fikria