Setidaknya ada 14 kepala keluarga (KK) yang menjadi perajin lumpia duleg di dusun tersebut. Tetapi secara keseluruhan warga yang terlibat dalam penjualan kuliner tersebut sekira 30 orang. Ada pun pemasarannya meliputi Kabupaten Klaten, Boyolali hingga Sukoharjo.
Pada tahun lalu, lumpia duleg sudah mendapatkan pengakuan dengan memperoleh Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI) dari Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham). Kini sedangkan diperjuangkan para perajin menjadi WBTB.
“Untuk pengajuan menjadi WBTB sudah proses. Kemarin dengan disbudporapar sudah dibuatkan film documenter. Berisikan asal muasal, proses pembuatan, penjualan hingga testimoni dari figur perajin Lumpia duleg yang tertua,” ucap Sekretaris Paguyuban Lumpia Duleg Mugi Langgeng, Peri Santoso kepada Jawa Pos Radar Solo beberapa waktu lalu.
Lebih lanjut, Peri mengungkapkan saat ini tinggal menunggu jadwal sidang dari Kemendikbud untuk diputuskan menjadi WBTB. Seluruh proses pengajuan WBTB itu mendapatkan dorongan dan dukungan sepenuhnya dari Disbudporapar Klaten. Para perajin lumpia duleg pun menyambut positif hal tersebut.
“Kami mengharapkan dengan nantinya ditetapkan sebagai WBTB menjadikan Lumpia duleg menasional. Tidak hanya dikenal di wilayah Klaten saja. Sekaligus menjadi aset budaya dan tradisi Desa Gatak yang proses pembuatannya begitu rumit dan masih manual serta turun temurun mampu menghidupi kampung,” ucapnya.
Lumpia duleg sendiri serupa dengan lumpia Semarang, tetapi ukuran panjangnya hanya sekira 5 cm. Kulitnya terbuat dari tepung terigu yang dicampur dengan pati onggok. Isi lumpia duleg sendiri hanya toge.
Prosesnya dimasak dengan sedikit minyak goreng dengan menggunakan api sedang selama satu menit. Dalam menikmatinya ditemani kuah yang disebut juruh terbuat dari air gula jawa yang dicampuri bawang merah dan bawang putih serta sedikit kecap manis.
Cita rasa gurih, manis dan sedikit asam langsung menyeruak di lidah ketika menyantapnya. Dahulunya sering kali menjadi santapan pendamping saat menyaksikan pagelaran wayang kulit maupun pertandingan turnamen sepak bola. Termasuk dijajakan di sekitar Pasar Tradisional Delanggu maupun keliling antar kampung.
“Pertama kali yang membuat lumpia duleg ya Mbah Karto Purno. Mengadopsi dari lumpia Semarang tetapi dibuat dengan ukuran lebih kecil. Dulu awalnya berisikan toge, kubis dan daun pepaya. Sekarang hanya diisi dengan toge saja,” ucap Didik Bowo Saputro, ketua Paguyuban Lumpia Duleg Mugi Langgeng.
Menariknya, perajin dan penjual lumpia duleg hanya ada di Dusun Lemburejo saja. Meski saat ini juga berkembang di kampung maupun desa lainnya di Delanggu, tetapi apabila ditelusuri tetap berasal dari Lemburejo. Sedangkan untuk harganya cukup terjangkau yakni Rp 1.000 sudah mendapatkan tiga biji lumpia duleg. (ren/nik/dam) Editor : Damianus Bram