Gigi dan tulang itu ditemukan berada di lahan dari penemuan struktur tungku sebelumnya. Selama ini telah dikumpulkan warga setiap kali menemukan saat penggalian tanah untuk bahan baku batu bata di lahannya tersebut.
“Jadi sudah dikumpulkan dan diwadahi dalam ember oleh warga. Sebagian masih menempel di lapisan tanah jadi kami tidak berani untuk mengupas. Soalnya cukup rapuh sehingga hanya mendokumentasikan saja,” ucap Humas Komunitas Pegiat Cagar Budaya (KPCB) Kabupaten Klaten, Hari Wahyudi, Sabtu (27/5/2023).
Lebih lanjut, Hari menjelaskan, penemuan gigi dan tulang yang diduga Kerbau Jawa yang hidup di era mataram kuno tidak hanya saat Selasa (23/5/2023) saja. Tetapi sebelumnya juga pernah ditemukan ODCB yang sama. Tetapi pada hari tersebut ditemukan artefak dalam jumlah banyak yakni 20 gigi.
“Menurut peneliti ahli tulang dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) temuan gigi berasal dari kerbau yang usianya masih muda. Memang demikian kerbau-kerbau itu sengaja dimasak, kan dagingnya masih empuk. Dikonsumsi oleh masyarakat era Mataram Kuno yang ada di Dusun Kropakan,” jelas Hari.
Keyakinan Hari bahwa Kerbau Jawa kuno diolah oleh masyarakat dahulunya karena lokasi penemuan di sekitar struktur tungku. Diyakini sebagi pusat kegiatan untuk memasak pada permukiman di era Mataram Kuno.
Sesuai dengan arahan dari BRIN untuk artefak berupa gigi dan tulang yang ditemukan itu dikumpulkan dan didata. Apabila tidak memungkinkan untuk dikumpulkan maka bisa didokumentasikan
“Untuk ukuran giginya sendiri memiliki lebar 4 cm dan panjang 7 cm. Tapi itu baru bagian ujungnya saja. Kalau ujungnya ukuran seperti itu maka kerbaunya pasti cukup besar,” ucapnya.
Hari menjelaskan, binatang Kerbau Jawa yang disantap oleh masyarakat era Mataram Kuno diperkuat dengan tulisan yang ada prasasti selama ini. Selain kerbau, juga terdapat celang, anjing hingga ungags yang dagingnya dikonsumsi. Sedangkan kenapa tidak mengkonsumsi daging sapi karena menjadi binatang yang disucikan.
“Kalau sisa tulang dari unggas tentunya sudah tidak ada karena ribuan tahun lalu. Sedangkan untuk binatang berukuran besar seperti kerbau tentunya masih bisa bertahan lama. Maka itu bisa kita temukan sisanya sampai saat ini,” ucapnya.
Sebagai informasi, BRIN sendiri sudah pernah melakukan penelitian di Dusun Kropakan sebanyak dua kali dalam lima bulan terakhir. Kedatangan para peneliti Pusat Riset Arkeologi Prasejarah dan Sejarah BRIN itu diawali pada 30 Januari dan 16 Maret. Hal itu dilakukan menyusul dengan adanya berbagai penemuan mulai dari sumur kuno, kendi, guci dari keramik hingga batuan candi.
“Kami menduga, dahulunya Dusun Kropakan merupakan klaster hunian di era mataram kuno yang cukup padat. Diperkuat dengan berbagai temuan,” ucap Peneliti dari Pusat Riset Arkeologi Prasejarah dan Sejarah BRIN, Sugeng Riyanto saat ditemui Jawa Pos Radar Solo beberapa waktu lalu. (ren/dam) Editor : Damianus Bram