Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Pelaku Penggilingan Padi Menjerit, Harga Gabah Kering Panen Naik Tak Terkontrol

Angga Purenda • Sabtu, 26 Agustus 2023 | 18:10 WIB

Salah seorang pelaku usaha penggilingan padi menunjukkan stok beras di Desa Karangnongko, Kecamatan Karangnongko.
Salah seorang pelaku usaha penggilingan padi menunjukkan stok beras di Desa Karangnongko, Kecamatan Karangnongko.
 

 

RADARSOLO.COM – Pelaku usaha penggilingan beras di Kabupaten Klaten mulai mengeluhkan kenaikan harga gabah kering panen (GKP) yang sangat signifikan. Bahkan, di lapangan sudah di atas harga pembelian pemerintah (HPP), yakni Rp 5.000 per kilogram.

Kondisi itu membuat para pelaku usaha mengalami kerugian lantaran harga yang sudah tidak terkontrol. Salah satunya yang dialami oleh Mohammad Ibrahim Al Asyari, 36, asal Kecamatan Karangnongko.

“Untuk kondisinya sedang tidak baik-baik saja. Harga gabah naik begitu signifikan. Ini terjadi karena dampak El Nino, menjadikan rendemen gabah menjadi menurun. Dari biasanya 8 ton beras per hektare menjadi 6 ton beras per hektare,” ucap pria yang akrab dipanggil Ibra itu.

Lebih lanjut, Ibra menjelaskan, untuk harga gabah kering panen saat ini sudah tembus Rp 7.500 per kg. Sedangkan harga dalam beras pecah kulit juga mengalami kenaikan. Dari sebelumnya Rp 8.500 per kg menjadi Rp 10.500 per kg.

“Bahkan hari ini (kemarin, Red) di lapangan ada permintaan harga Rp 10.800 per kg (pecah kulit). Saya harus bagaimana untuk bisa mengikuti harga yang berubah seperti ini. Tapi apa pun itu kami terus berikhtiar,” ucap dia.

Ibra hanya berharap pemerintah pusat bisa ikut campur tangan dengan kondisi pelaku usaha penggilingan beras. Salah satunya dengan mendorong pemerintah mengeluarkan kebijakan impor beras. Hal itu dilakukan agar harga gabah hingga beras di pasaran menjadi stabil.

Menurutnya, apabila tidak ada kebijakan impor dari pemerintah akan berdampak pada kenaikan beras di pasaran. Berdasarkan perhitungannya, untuk beras kualitas medium bisa menyentuh Rp 12.500 per kg. Padahal berkaca pada tahun lalu di periode yang sama, harga beras medium hanya di kisaran Rp 10.800 per kg.

“Kalau kita lihat secara kondisi, kemungkinan prediksi saya sampai pada tahun ini. Baru masa tanam (MT) I mudah-mudahan (harga) terjadi penurunan karena panen raya dan serapan tinggi. Tetapi dengan berakhirnya dampak El Nino, juga bisa meningkatkan produksi panen,” ujar dia.

Dengan terjadinya kenaikan harga gabah yang tak terkontrol, diakui Ibra, juga berdampak pada penggilingan padi miliknya. Khususnya penyerapan untuk beras pecah kulit mengalami penurunan hingga 50 persen.

“Pemerintah harus segera membuka keran impor agar harganya stabil. Biar harganya tidak berubah setiap hari,” ucapnya.

Sementara itu, Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Klaten telah memetakan daerah pertanian yang rawan terdampak kemarau disertai fenomena El Nino pada tahun ini. Lahan pertanian yang rawan tersebut tersebar di 21 kecamatan.

“Indikasi lahan pertanian terdampak El Nino yakni lahan yang selalu mendapatkan pasokan air mendadak, tidak ada irigasi ketika kemarau tiba. Sampai saat ini belum ada laporan terkait dampak tersebut,” ucap Kepala DKPP Klaten Widiyanti.

Lebih lanjut Widiyanti memastikan, stok pangan di Klaten diperkirakan cukup untuk enam bulan mendatang. Berdasarkan data existing sawah di Klaten ada 21.000 hektare ditanami padi. (ren/nik/ria)

 

Editor : Syahaamah Fikria
#penggilingan beras #pertanian #el nino #impor beras #harga #gabah