Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

Petani di Trucuk Andalkan Pompa Air di Tengah Kemarau Panjang, Terpaksa Keluarkan Biaya Ekstra

Angga Purenda • Kamis, 28 September 2023 | 17:48 WIB
NEKAT: Kepala Desa Bero, Kecamatan Trucuk, Suranto memperlihatkan pompa yang diandalkan untuk menyedor air dari sumur pantek untuk mengairi lahan persawahannya.
NEKAT: Kepala Desa Bero, Kecamatan Trucuk, Suranto memperlihatkan pompa yang diandalkan untuk menyedor air dari sumur pantek untuk mengairi lahan persawahannya.

RADARKLATEN.COM – Petani di Kecamatan Trucuk seperti di Desa Bero tetap menanam padi di tengah kemarau panjang. Meskipun harus mengeluarkan biaya ekstra mencapai ratusan ribu untuk mengoperasikan pompa air agar tidak gagal panen.

Minimnya air untuk pengairan menjadikan petani harus mengandalkan pengairan dari sumur pantek. Airnya harus disedot dengan menggunakan pompa untuk mengairi lahan pertaniannya masing-masing.

”Untuk saat ini di wilayah Bero para petani menanam tembakau dan palawija. Dari total luasan 200 hektare sekira 70 persen ditanami jagung dan 30 persen lahan ditanami tembakau,” ucap Kepala Desa Bero, Suranto, Rabu (27/9).

Suranto menjelaskan, irigasi pertanian di Desa Bero bersifat setengah teknis. Sehingga saat kemarau para petani harus menyedot air dari sumur pantek dengan menggunakan pompa. Akibatnya petani harus keluar biaya tambahan untuk membeli bahan bakar mesin demi menghidupan pompa diesel.

”Kalau untuk masa tanam (MT) 1 dan MT II irigasinya memang lancar dari bendung Kali Kebo. Tetapi kalau untuk MT III seperti ini kering. Andalannya ya menggunakan pompa,” ucap Suranto.

Suranto menjelaskan, dalam mengoperasikan pompa, petani menggunakan beberapa jenis bahan bakar. Salah satunya pertalite dengan harga Rp 10 ribu per liter. Setidaknya membutuhkan 6 liter bahan bakar untuk menyedot sumur. Guna mengairi satu patok sawah atau sekira 2.000 meter persegi.

Sebagai gambaran dalam satu musim tanam jagung, petani setidaknya membutuhkan 10 kali memompa air. Maka dalam satu musim tanam jagung di lahan seluas satu patok, petani harus keluar biaya tambahan bahan bakar pompa sekira Rp 600 ribu.

”Untuk membeli jenis bahan bakar minyak bersubsidi ya harus menggunakan surat rekomendasi. Masa berlakunya hanya satu bulan. Meski harus tombok, petani di Desa Bero ya tetap menanam. Tidak ada lahan yang dibiarkan menganggur saat kemarau,” tambahnya.

Salah seorang petani asal Desa Bero, Mardiyana, menjelaskan, dalam waktu lima hari sekali petani mengiri lahan persawahannya. Hal itu dilakukan agar tetap bisa panen jagung di tengah musim kemarau.

”Ya tetap menggunakan pompa air tetapi dengan bahan bakar elpiji. Untuk sekali mengiri satu patok sawah membutuhkan sekira 2,5 tabung elpiji 3 kilogram (Kg),” tandasnya. (ren/adi)

Editor : Damianus Bram
#desa bero #pompa air #Irigasi Pertanian #pengairan sawah #padi #petani