Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

BPBD Klaten Usulkan Tambahan Bantuan Air Bersih 400 Tangki

Angga Purenda • Jumat, 6 Oktober 2023 | 18:49 WIB
KRISIS AIR: Warga Desa Tumpukan, Kecamatan Karangdowo saat memasukan air yang di dapat dari dropping BPBD Provinsi Jawa Tengah ke bak penampungan.
KRISIS AIR: Warga Desa Tumpukan, Kecamatan Karangdowo saat memasukan air yang di dapat dari dropping BPBD Provinsi Jawa Tengah ke bak penampungan.

RADARKLATEN.COM - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Klaten mengusulkan tambahan bantuan air bersih sekira 400 tangki dalam APBD Perubahan 2023. Hal itu untuk mengatasi krisis air bersih akibat musim kemarau hingga akhir tahun nanti.

“Untuk penambahan 400 tangki dengan anggaran kurang lebih hampir Rp 200 juta. Saat ini sudah ada 16 desa yang tersebar di 5 kecamatan yang terdampak krisis air bersih selama musim kemarau ini,” ucap Kepala Pelaksana (Kalak) BPBD Klaten, Syahruna, Kamis (5/10).

Lebih lanjut, Syahruna menjelaskan, lima kecamatan yang desanya terdampak kekeringan berada di Kemalang, Jatinom, Wedi, Bayat dan Karangdowo. Selama ini dropping air bersih dilakukan BPBD Klaten secara merata di wilayah tersebut.

Berdasarkan data dari BPBD Klaten, air bersih yang digelontorkan mengatasi krisis air bersih sudah mencapai 2,28 juta liter atau 456 tangki. Terutama selama empat bulan musim kemarau di Kota Bersinar.

“Paling banyak dropping air bersih dilakukan di wilayah Kecamatan Kemalang. Seperti Desa Sidorejo dan Tegalmulyo. Sedangkan daerah lainnya, setiap harinya ada pasokan air dari pihak swasta maupun Aparatur Sipil Negara (ASN) yang langsung ke desa,” tambah Syahruna.

Ia mengungkapkan, berdasarkan prediksi dari BMKG, untuk hujan di Klaten akan terjadi di akhir November. Hanya saja hujan pertama kali akan terjadi di daerah pegunungan terlebih dahulu. Sedangkan di daerah perkotaan dan lainnya baru terjadi di awal Desember.

Dirinya pun mengimbau agar masyarakat untuk memperbanyak konsumsi air putih di tengah cuaca ekstrem kali ini. Termasuk buah dan sayuran untuk meningkatkan daya tahan tubuh. Begitu juga menggunakan pelindung saat beraktivitas di luar rumah karena terik sinar matahari yang cukup menyengat.

“Saat ini Klaten statusnya masih darurat kekeringan. Ini masih berlaku hingga nantinya terjadi hujan seperti biasanya,” ucapnya.

Sementara itu, salah satu warga terdampak krisis air bersih asal Desa Tumpukan, Kecamatan Karangdowo, Feri, 35, mengaku selama empat bulan terakhir, wilayahnya tidak diguyur hujan. Hal itu membuatnya harus membeli air bersih dari pedagang keliling untuk konsumsi sehari-hari dengan harga Rp 3.000 untuk setiap jeriken (25 liter).

“Kalau untuk konsumsi sehari-hari ya beli. Biasanya beli lima sampai enam jeriken. Soalnya untuk persediaan juga,” ucap Feri.

Ia mengungkapkan, bahwa setiap jeriken bisa digunakan selama tiga hari untuk keperluan konsumsi sehari-hari bagi anggota keluarganya. Sedangkan untuk ternak mengandalkan air dari sumur meski terus mengering. Hingga terpaksa harus membeli sehingga kebutuhan untuk tiga ekor sapinya terpenuhi.

“Biasanya air yang saya beli juga disimpan di bak penampungan di rumah. Jadi benar-benar saya manfaatkan secara optimal untuk berbagai keperluan,” ucapnya.

Seperti diketahui di wilayah Desa Tumpukan sendiri terdapat 425 Kepala Keluarga (KK) yang terdampak krisis air bersih. Selama ini selain mengandalkan pembelian air bersih juga dropping dari BPBD Klaten. (ren)

Editor : Damianus Bram
#kemarau #krisis air bersih #Bantuan air bersih #BPBD Klaten