RADARSOLO.COM – Warga tiga desa di Kecamatan Ngawen, Klaten menggeruduk proyek Tol Solo-Jogja di Desa Gatak, Jumat (6/10). Puluhan warga tersebut datang dari Desa Gatak, Manjung dan Senden.
Ada tiga hal yang disuarakan dalam aksi protes warga tersebut. Semua terpampang dalam spanduk yang dibentangkan. Mulai dari jalan poros desa dipersempit, saluran air sawah dimatikan, dan jalan lingkar desa dihilangkan akibat adanya proyek Tol Solo-Jogja. Pendemo meminta pengerjaan proyek tol dihentikan, sebelum ada kesepakatan dengan warga desa.
Audiensi akhirnya dilakukan di Balai Desa Gatak. Camat Ngawen Anna Fajria Hidayati turut hadir, termasuk pelaksana proyek PT Adhi Karya (Persero).
“Kami sebelumnya berat melakukan ini (protes), soalnya bukan kebiasaan kami. Kami sudah menempuh pengaduan secara lisan selama empat kali. Begitu juga pengaduan tertulis sebanyak dua kali, tetapi tidak pernah ada tanggapan,” ucap koordinasi aksi demo Sriyono.
Warga meminta ada pengembalian jalan poros desa. Dari sebelumnya lebar 10 meter, kini hanya menyisakan 3 meter. Akibat lebar jalan menyempit, membuat truk yang membawa bahan utama soun tidak bisa melintas. Padahal di sekitar lokasi demo itu menjadi pusat industri soun di Klaten. Sehingga penyempitan jalan poros desa itu jelas mengganggu usaha warga setempat.
“Belum lagi kalau soun terkena polusi debu akibat proyek tol, tentunya mempengaruhi kualitasnya. Ini membuat soun tidak laku,” keluhnya.
Hal lain yang disorot warga adalah saluran irigasi yang telah dihilangkan, ditimbun dengan material. Kondisi itu membuat para petani tidak bisa menanam padinya selama dua tahun terakhir. Petani setempat memohon untuk bisa dihidupkan kembali saluran irigasinya.
Begitu juga dengan alur lingkar yang dibangun secara swadaya oleh masyarakat, kini telah dihilangkan begitu saja. Padahal jalan tersebut menghubungkan tidak desa yakni Gatak, Manjung dan Senden. Akibatnya warga harus memutar sejauh 1 km, dari sebelumnya bisa ditempuh jarak sekira 200 meter.
“Kami tidak menuntut yang muluk-muluk. Tiga tuntutan warga itu bisa direalisasikan,” tambahnya.
Sementara itu, Camat Ngawen Anna Fajria Hidayati mengungkapkan dalam audiensi belum ada titik temu terkait keluhan warga.
“Semoga semua permasalahan ada solusinya. Direncanakan untuk pertemuan selanjutnya minggu depan,” ucap Anna.
Lebih lanjut, dia mengungkapkan, sebelum proyek jalan tol dilaksanakan sebenarnya terdapat rencana teknis akhir (RTA). Pemerintah desa berkesempatan melakukan pencermatan terkait saluran irigasi hingga pembangunan jalan desa. Sebelum akhirnya proyek jalan Tol Solo-Jogja itu bisa dilaksanakan.
Perwakilan dari PT Adhi Karya (Persero) selaku pelaksana proyek tol, Rifki mengungkapkan, pihaknya hanya melaksanakan pembangunan sesuai dengan perencanaan. Terkait tuntutan warga, dia belum bisa memberikan tanggapan lebih lanjut.
“Hasil dari audiensi akan ada pertemuan lanjutan. Ini untuk mendetailkan masalah,” pungkasnya. (ren/nik/ria)
Editor : Syahaamah Fikria