RADARSOLO.COM - Cuaca panas ekstrem belakangan ini, membuat aktivitas masyarakat cukup terganggu. Nah, untuk mengisi kebosanan dan rasa gerah akibat panas ekstrem, seorang ibu di Klaten mencoba memasak telur mata sapi di bawah terik matahari di halaman rumahnya, Senin (9/10).
Video memasak telur mata sapi itu kemudian diunggah dalam Instastory akun media sosial instagram @arvinabram yang juga ditag pada akun @kabar_klaten.
Dalam video itu terdapat suara perempuan bernama Dewi, 33, warga Desa Manjung, Kecamatan Ngawen, Klaten yang menerangkan bahwa cuaca siang itu cukup panas hingga dirinya bisa memasak telur. Hal itu Dewi lakukan untuk menuruti anaknya bernama Arka, yang sebelumnya menyaksikan konten memasak telur di bawah terik matahari lewat YouTube.
“Panas e isoh goreng endog, panas banget. Nuruti Arka iki (Panasnya sampai bisa untuk menggoreng telur, panas banget. Menuruti Arka ini),” ucap Dewi dalam video tersebut.
Video itu kemudian diunggah ulang oleh akun media sosial Instagram @kabar_klaten dengan ditambah keterangan berbahasa Jawa "Wis Njajal goreng ndog na latar lur."
Hingga pukul 20.35 WIB, unggahan video itu sudah mendapatkan 4.149 likes (suka) dan 110 komentar.
Saat dikonfirmasi, Dewi mengungkapkan awalnya dia menaruh wajan sebagai tempat penggorengan di atas genteng rumah. Sambil menunggu anaknya pulang dari sekolah Paud.
“Itu dari pukul 08.00, sudah saya taruh di atas genteng. Lalu baru sekira pukul 11.00, telur saya masukkan ke penggorengan hingga akhirnya saya unggah ke media sosial,” ucap Dewi, Senin (9/10).
Ia mengungkapkan, dia sempat menuangkan minyak dalam wajan hingga mendidih. Kemudian melanjutkan memasak di halaman rumahnya. Proses menggoreng telur mata sapi itu sekira tiga jam. Meski begitu, Dewi memastikan telur yang digorengnya baru setengah matang.
“Mungkin kalau didiamkan sampai sore hari, bisa mateng kali ya. Tapi akhirnya juga dimakan oleh anak saya,” ucapnya.
Ia mengungkapkan, suhu panas yang pernah terjadi di daerahnya bisa sampai 38 derajat Celcius. Hal itu diketahui dari aplikasi yang ada di smartphone.
Sementara itu, Kepala Pelaksana (Kalak) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Klaten Syahruna mengungkapkan, berdasarkan prediksi dari BMKG, dampak puncak El Nino terjadi pada Oktober. Sedangkan penurunan dari dampak kenaikan suhu mulai terjadi pada November.
“November diprediksi baru hujan tetapi di wilayah pegunungan. Sedangkan untuk hujan di wilayah Kota Klaten diprediksi baru terjadi pada awal Desember,” pungkasnya. (ren/ria)
Editor : Syahaamah Fikria