Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner

Cuaca Ekstrem, Petani Keramba Rowo Jombor Merugi

Angga Purenda • Jumat, 29 Desember 2023 | 18:30 WIB
SIKLUS TAHUNAN: Sejumlah petani ikan keramba waduk Rowo Jombor, Desa Krakitan, Kecamatan Bayat membersihkan ikan yang mati, kemarin (28/12). Inset, ikan nila yang mati.
SIKLUS TAHUNAN: Sejumlah petani ikan keramba waduk Rowo Jombor, Desa Krakitan, Kecamatan Bayat membersihkan ikan yang mati, kemarin (28/12). Inset, ikan nila yang mati.

RADARKLATEN.COM – Harapan petani ikan karamba di Rowo Jombor, Desa Krakitan, Kecamatan Bayat untuk meraup untung saat pergantian tahun baru pupus.

Lantaran ribuan ikan yang dibudidaya mati diduga akibat polusi air. Pemicunya kondisi anomali cuaca saat ini.

”Kematian ribuan ikan ini sudah terjadi sejak awal bulan ini. Tapi paling parah ya seminggu terakhir ini. Dikarenakan cuacanya yang sangat ekstrem, dari yang awalnya panas sekali, tiba-tiba turun hujan tetapi tidak lebat. Ini tentunya mempengaruhi perbedaaan suhu air di atas dan bawahnya,” ucap salah seorang petani ikan keramba Rowo Jombor, Dwi Purwanto, 36, kemarin (28/12).

Dwi mengaku ikan mati miliknya mencapai 2 kuintal. Jenisnya ikan nila dan koi. Dwi sendiri memiliki keramba berukuran secara keseluruhan 72 meter x 30 meter pada waduk.

Dia memberikan gambaran bahwa untuk harga ikan nila saat ini per kilogram (kg) yakni Rp 27.000. Tetapi saat malam pergantian tahun baru, bisa mencapai Rp 30.000 per kg.

Maka itu momentum tersebut sering kali ditunggu-tunggi petani ikan keramba untuk meraup untung secara maksimal.

”Sebenarnya dalam setahun petani ikan keramba itu memiliki dua momen. Yakni saat Idul Fitri dan malam pergantian tahun baru. Tetapi ikan yang kami tebar berusia lima bulan itu mati. Tetapi tidak semua area yang terkenal hanya tertentu saja. Ada petani yang ikannya mati sekira 6 kuintal,” tambah Dwi.

Petani ikan keramba lainnya, Suratin menjelaskan, ikan nila miliknya yang mati mencapai 5 kuintal.

Diakuinya penyebabnya yakni polusi air yang dipicu perubahan cuaca yang ekstrem, sehingga mempengaruhi pada suhu air.

”Awalnya panas, lalu tiba-tiba hujan. Jadi oksigen berkurang dan tiap tahun pasti ada tapi sebelumnya bisa diantisipasi (pembuat sirkulasi udara pada keramba dengan mesin disel, Red) tapi kali ini belum kita pasang,” ucapnya.

Lebih lanjut, Suratin mengungkapkan, ikan yang mati lantas dikubur. Hal itu dilakukan untuk meminamalisasi bau agar tidak tercium menyengat. (ren/adi)

Editor : Damianus Bram
#Rowo Jombor #Petani Ikan #Ikan Mati #cuaca ekstrem #anomali cuaca