RADARKLATEN.COM - Objek Diduga Cagar Budaya (ODCB) kembali ditemukan di Dusun Kropakan, Desa Mranggen, Kecamatan Jatinom pada Jumat (22/12).
Kali ini warga menemukan lempengan perunggu dan benda yang menyerupai kemuncak bangunan.
“Kemarin ditemukan seperti patahan perunggu, itu perunggu karena ada hijau-hijau (oksidasi). Sama semacam kemuncak bangunan,” ucap Ketua Pemuda RW 14 Dusun Kropakan, Desa Mranggen, Pupun Prasetyo kepada Jawa Pos Radar Solo, Kamis (28/12).
Lebih lanjut, Pupun menjelaskan, terkait benda yang menyerupai kemuncak itu berupa terakota yang terbuat dari tanah liat.
Sementara itu, untuk artefak yang ditemukan disimpan di rumahnya. Pihaknya juga melaporkan penemuan ini ke Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan pegiat cagar budaya.
“Selama ini kami terus mengumpukan temuan baru karena di lokasi ada tambang baru untuk batu bata. Jadi kami juga mengedukasi para perajin batu bata,” ucap Pupun.
Seperti diketahui, Dusun Kropakan dikenal dengan aktivitas pembuatan batu bata oleh warga setempat.
Saat melakukan proses pembuatan batu bata itulah sering kali warga menemukan ODCB atau sejumlah artefak kuno.
Seperti sebelumnya juga ada penemuan sumur kuno, guci hingga manik-manik.
Sementara itu, pegiat cagar budaya asal Klaten Hari Wahyudi yang selama ini mendampingi warga Dusun Kropakan atas berbagai penemuan, menjelaskan ODCB yang ditemukan itu berupa lempeng pipa berbahan logam dengan keraknya berwarna-warna kehijau-hijauan yang diperkiraan dari perunggu.
Hari menjelaskan lempeng pipa berbahan logam itu memiliki panjang 16 cm dengan ketebalan 0,5 cm.
“Saya menduga dulunya merupakan bagian dari perhiasan berbahan perunggu berupa gelang era Mataram kuno. Lempeng perunggu ini ditemukan di lahan milik Bu Suyoto tetapi yang menemukan Pak Sahroni di kedalaman 60 cm dibawah permukaan tanah. Ada pun lahan yang baru saja dibuka berukuran 4 meter x 4 meter,” ucap Hari.
Lebih lanjut, Hari menjelaskan, untuk benda terakota ditemukan di lahan warga yang bernama Diran.
Lokasi lahan milik Diran itu bersebelahan dengan Suyoto. Terlebih lagi lahan dari Diran yang sering kali ditemukan sejumlah ODCB.
“Terakota ini indikasi awal saya kemuncak bangunan dari pemujaan berbentuk bersegi delapan dengan diameternya 20 cm. Pada lokasi lahan milik pak Diran ini juga ditemukan batu umpak juga. Kami menduga lahan di lokasi Pak Diran ini dulunya tempat usaha pengecoran di era mataram kuno atas berbagai temuan artefak kuno selama ini,” ucap Hari.
Khusus untuk batu umpak masih berada di lokasi penemuan dengan dilaksanakan pemantauan. Pihaknya juga sudah melaporkan kepada pihak BRIN.
Nantinya akan dilaksanakan peninjauan kembali tetapi untuk waktunya belum dapat ditentukan.(ren)
Editor : Damianus Bram