RADARSOLO.COM - Jajaran Polres Klaten melakukan pembongkaran makam di tempat pemakaman umum (TPU) Dusun Ngriman, Desa Karanglo, Kecamatan Klaten Selatan pada Kamis (11/1).
Pembongkaran makam dilakukan untuk melakukan otopsi terhadap jenazah, dimulai pukul 09.00 - pukul 13.00 WIB.
Pembongkaran dan otopsi yang dilakukan itu bagian dari penyelidikan untuk mengungkap kasus dugaan pembunuhan terhadap seorang perempuan berinisial SW, 70, warga Desa Karanglo, Klaten Selatan.
Kegiatan itu melibatkan Rumah Sakit Bhayangkara Polda Daerah Istimewa Jogjakarta (DIJ) dan Universitas Gadjah Mada (UGM) Jogja.
"Yang dibongkar ini adalalah makam korban dugaan tindak pidana pembunuhan. Kami masih dalami dan melakukan penyelidikan. Untuk hasil otopsi mayat belum bisa kami sampaikan,” ujar Kanit I Satreskrim Polres Klaten Ipda Febryanti Mulyadi saat ditemui di lokasi.
Lebih lanjut, Febry menjelaskan, jenazah SW sudah dimakamkan selama 100 hari di TPU setempat.
Saat dilakukan otopsi sudah ada perubahan pada tubuh jenazah. Namun, hal itu tidak menjadi kendala dalam pemeriksaan oleh belasan dokter.
Lewat otopsi itu, diharapkan bisa memberi terang terhadap proses penyelidikan.
Mengingat kematian SW di kediamannya pada 3 Oktober 2023 lalu, dinilai janggal oleh keluarga dan tetangganya.
Hingga akhirnya, pihak keluarga melaporkan kasus itu, lima hari setelah kematian SW pada 8 Oktober 2023.
“Proses otopsi ini untuk menentukan langkah selanjutnya. Saat ini sudah ada lima saksi yang kami periksa untuk dimintai keterangan baik keluarga dan kerabat terdekat,” jelas Febry.
Berdasarkan informasi yang dihimpun Radarsolo.com, kematian SW diketahui dari tetangga yang curiga melihat pintu rumah SW dalam kondisi terbuka, dari 2 Oktober 2023 pukul 23.00 hingga 3 0ktober 2023 Pukul 05.00.
Para tetangga pun memberitahukan hal itu kepada keponakan SW, yakni Sriyanto, 48, yang tinggal bersebelahan dengan rumah korban.
“Saat itu kondisi lampu di dalam rumah mati. Sempat mengetuk pintu kamar tidur tetapi tidak ada respons. Lalu saya buka sudah mendapati bulik (SW, Red) di atas kasur, dari ujung kepala hingga kaki tertutup selimut,” ujar Sriyanto.
Melihat kondisi itu, Sriyanto langsung melapor ke ketua RT setempat.
Awalnya, kematian SW dianggap wajar dengan dugaan serangan jantung. Terlebih lagi SW selama ini hidup seorang diri karena suaminya sudah meninggal serta tidak memiliki anak.
Selang beberapa hari setelah dimakamkan, Sriyanto mendapatkan informasi dari tetangga yang memandikan jenazah bahwa menemukan luka lebam di tubuh SW. Seperti bagian leher, pundak dan punggung.
Dari kondisi janggal itu, pihak keluarga sepakat untuk melaporkan kejadian tersebut ke Polres Klaten.
“Saat menemukan jenazah SW di dalam kamar itu hanya mendapatkan uang Rp 15 ribu di sakunya. Untuk perhiasan seperti gelang, kalung dan anting seberat 70 gram yang pernah dipakai, tidak ditemukan. Hilang semua,” ujar Sriyanto.
Dia pun berharap kejanggalan atas kematian kerabatnya itu bisa segera terungkap oleh kepolisian. (ren/ria)
Editor : Syahaamah Fikria