RADARSOLO.COM - Seandainya Suhardi, 48, tidak ikut gotong royong saat ada hajatan tetangganya, mungkin kecelakaan maut antara Toyota Agya dengan kereta api (KA) Gaya Baru Malam Selatan (GBMS) pada Minggu sore (14/1) masih bisa dihindari.
Terlihat ada raut penyesalan di wajah sang sukarelawan penjaga perlintasan sebidang tanpa palang di Desa Taji, Kecamatan Prambanan, Klaten.
Perlintasan KA sebidang tanpa palang pintu di Desa Taji, Prambanan, kemarin siang (15/1) tampak ramai dari biasanya.
Terlihat sejumlah petugas mengenakan seragam bertuliskan Kementerian Perhubungan (Kemenhub), sedang mengecek lokasi tertempernya mobil dengan KA GBMS sehari sebelumnya.
Akibat dari peristiwa tersebut, dua orang di dalam mobil asal Lamongan, Jawa Timur tewas di lokasi kejadian.
Para petugas tersebut sedang mengukur jalan dari titik jalur perlintasan KA. Termasuk mengecek titik akhir mobil yang ditumpangi korban terseret KA sejauh 20 meter.
Tak lama, mereka meminta keterangan sukarelawan yang sedang menjaga perlintasan sebidang itu.
Sukarelawan itu tak lain Suhardi, warga asal Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Jogjakarta (DIJ).
Dia ditanya petugas terkait rambu-rambu yang terpasang, hingga penerangan jalan umum (PJU) di dekat perlintasan.
Diketahui Suhardi baru bertugas di sana sejak empat bulan terakhir. Dia melakukannya secara sukarela. Panggilan dari hatinya.
“Selama saya yang jaga belum pernah ada kejadian,” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Solo di lokasi kejadian, kemarin.
Saat peristiwa pilu tersebut terjadi, Suhardi kebetulan tidak berjaga. Karena kebetulan di lingkungan tempat tinggalnya sedang ada hajatan.
Praktis warga di sana gotong royong membantu kelancaran hajatan.
“Rasanya hati ini trenyuh (sedih). Menyesal kenapa hari itu saya tidak menjaga perlintasan. Kalau saja saya pas jaga, sebenarnya bisa dicegah,” sesal Suhardi.
Sehari-hari Suhardi tinggal di kediaman kerabatnya di Desa Tlogo, Prambanan, Klaten. Biasanya di menjaga perlintasan itu sejak pagi pukul 06.00 hingga sore. Tanpa mempedulikan panasnya terik matahari dan hujan deras.
Ketiga bertugas, dia hanya berbekal bendera polos warna kuning. Termasuk peluit yang dikalungkan di leher. Kedua alat ini sebagai isyarat kepada pengguna jalan, jika ada KA hendak melintas.
Suhardi sejatinya memiliki firasat di hari kejadian. Di tengah kesibukan gotong royong di tempat hajatan, muncul keinginan untuk datang ke perlintasan sore itu.
“Pas kejadian itu niatnya mau jaga malam setelah hajatan selesai. Sorenya perasaan tidak enak dan ingin jaga. Saya juga kaget karena dapat kabar ada kecelakaan itu,” beber Suhardi.
Saking larutnya dalam penyesalan, setelah kejadian Suhardi berjaga di perlintasan hingga larut malam tanpa beristirahat. Sekalipun berjaga sendirian, ditemani temaram lampu PJU.
“Sering ada pengendara nekat melintas meski sudah saya cegat, untungnya tidak tertabrak. Jujur saya jaga di sini karena panggilan hati nurani. Rasa kemanusiaan terhadap sesama,” ujar pria yang dulunya buruh tani dan pemulung barang rongsokan itu. (ren/fer)
Editor : Damianus Bram