RADARSOLO.COM - Dusun Pagerjurang, Desa Melikan, Kecamatan Wedi sejak lama dikenal sebagai sentra kerajinan gerabah.
Keunikannya, produksi gerabah di kampung tersebut menggunakan teknik putaran miring.
Hal itu membuat Ketua DPR RI Puan Maharani melakukan kunjungan kerjanya ke sentra tersebut pada Selasa (30/1) lalu.
Teknik itu dilakukan para perajin terutama perempuan untuk membuat gerabah berukuran kecil. Terlebih lagi hal itu sudah diwariskan secara turun temurun. Khusus di wilayah Melikan ada sekira 250 perajin gerabah.
Produk yang dibuat beragam mulai dari cobek, piring, teko, pot dan perabotan serta hiasan lainnya.
Proses produksi gerabah masih secara tradisional dengan mengandalkan keahlian tangan hingga tungku pembakaran konvensional.
Selama beberapa tahun terakhir perajin mengalami kendala semakin menyusutnya bahan baku untuk memproduksi gerabah berkualitas.
Memang tanah liat yang digunakan tidak bisa sembarangan. Mayoritas perajin mengandalkan tanah liat yang diambil dari tanah kas desa untuk membuat gerabah.
“Untuk kondisinya, lima hingga tujuh tahun ke depan akan habis. Tapi jarak lima meter dari tanah kas desa itu ada perbukitan yang bisa dijadikan bahan baku,” ujar Ketua Paguyuban Perajin Gerabah Melikan, Sukanta saat ditemui pada Selasa (30/1).
Lebih lanjut, Sukanta menjelaskan, para perajin sebenarnya berusaha agar bisa memanfaatkan potensi tanah liat dari perbukitan di dekat kampung mereka. Hanya saja lokasi tersebut berada di tanah milik Perhutani.
“Harapan kami bisa simbiosis mutualisme dengan Perhutani. Gunung dibuat terasering, kemudian dilakukan penanaman kembali atau reboisasi. Potensi tanah yang dikeruk untuk membuat terasering itu sebenarnya bisa dimanfaatkan perajin sebagai bahan baku,” jelas Sukanta.
Ia mengungkapkan, dengan cara seperti itu, potensi bahan baku bisa tersedia untuk 40 tahun ke depan. Hal itu yang masih terus diperjuangkan oleh perajin gerabah setempat.
Salah satu perajin gerabah asal Desa Melikan, Waris Sartono mengaku masih menggunakan bahan baku dari wilayahnya sendiri.
Meski saat ini ketersediaan bahan baku terus menipis tetapi berusaha melestarikan kerajinan gerabah.
“Selama ini untuk produk gerabah kami selain memenuhi permintaan pasar lokal juga luar negeri. Seperti Amerika, Belanda, Australia dan yang terakhir kemarin Tiongkok. Berupa pot, aksesoris dan alat saji baik natural maupun painting,” jelas Waris.
Saat Puan mengunjungi sentra tersebut memang sempat dicurhati soal bahan baku berupa tanah liat yang mulai menipis. Puan mengatakan segera membantu untuk mencarikan solusi.
“Nanti kami bersama-sama mencari solusi. Tidak mungkin kemudian itu tidak dipikirkan dari sekarang karena tujuh tahun itu bukan waktu yang lama. Kalau tiba-tiba nanti sudah tidak ada bahan baku tentu menjadi masalah baru. Makanya tadi sudah bicara saya akan cari solusinya seperti apa,” ujar Puan.(ren)
Editor : Damianus Bram