RADARSOLO.COM - Ada tradisi unik di Dusun Jetis, Desa Bakungan, Kecamatan Karangdowo, Klaten setiap bulan Ruwah atau Syaban. Disebut pula dengan tradisi sadranan.
Tradisi ini terutama banyak terlihat di tempat pemakaman umum (TPU) Sasono Palereman di dusun setempat.
Begitu memasuki bulan Ruwah, warga secara gotong-royong membersihkan kompleks makam yang berada di tengah kampung tersebut.
Hal itu sudah dilakukan pada Minggu (18/2), dengan melibatkan pemuda setempat.
Tak hanya bersih-bersih, tetapi puluhan kijing arau nisan makam di TPU tersebut juga dicat warna-warni.
Hal itu sudah dilakukan pada Rabu (21/2), oleh warga setempat secara swadaya.
Setiap kijing dicat warna yang berbeda. Mulai dari merah, kuning, hijau hingga biru sehingga tampak mencolok.
Pantauan Radarsolo.com di lokasi, makam tampak menjadi lebih meriah.
Salah satu warga, Wagino, 60, mengungkapkan, pengecatan kijing makam telah menjadi agenda rutin setiap kali menyambut tradisi sadranan.
Wagino menceritakan, tradisi unik mengecat kijing makam di Dusun Jetis itu sudah berlangsung selama 4 tahun terakhir.
Inisiatif untuk kegiatan mengecat makam itu berasal dari tokoh masyarakat setempat.
“Ide itu lalu disambut oleh warga terutama para pemuda. Supaya makan menjadi terlihat bersih. Ahli waris yang hendak berziarah, ketika datang sudah melihat makam bersih,” ujar Wagino.
Lebih lanjut, Wagino menjelaskan, pengecatan makam dilakukan sejak Rabu (21/2) pagi hingga siang hari.
Pengecatan menghabiskan sekira 15 kaleng cat aneka ukuran dan warna.
Seluruh kijing makam di kompleks TPU yang sudah tua tersebut jadi sasaran pengecatan.
Selain bersih-bersih dan pengecatan, warga juga memperbaiki kijing yang kondisinya miring atau rusak.
Terkait jumlah makam di TPU tersebut, Wagino tidak mengetahui persis.
Meski begitu, hingga saat ini TPU tersebut masih bisa digunakan untuk memakamkan jenazah.
“Ada jenazah yang baru dimakamkan sekira 100 hari yang lalu," kata dia.
"Tapi kalau TPU ini sudah ada sejak kapan, saya tidak tahu pastinya. Sudah lama, dan memang berada di tengah permukiman sejak dulu,” tambah Wagino.
Terkait pelaksaaan tradisi sadranan di Dusun Jetis sendiri, Wagino menjelaskan, biasanya digelar setiap tanggal 15 Ruwah.
Rencananya, bakal digelar doa bersama di bangsal makam pada Sabtu (24/2) malam.
Dilanjutkan dengan pengajian pada Minggu (25/2). (ren/ria)
Editor : Syahaamah Fikria