RADARSOLO.COM - Kenaikan harga sembako khususnya beras langsung direspon Bupati Klaten Sri Mulyani dan Wakil Bupati Klaten Yoga Hardaya dengan turun langsung ke daerah.
Mereka kompak melakukan gerakan pangan murah (GPM) yang dimotori Bulog Solo. Seperti yang dilaksanakan di gedung serbaguna Desa Sawahan, Kecamatan Juwiring pada Selasa (27/2/2024).
Secara simbolis, Mulyani dan Yoga menyerahkan paket sembako yang ditebus murah oleh masyarakat seharga Rp 81 ribu, tapi mendapatkan 5 Kg beras, 1 Kg gula pasir dan 1 liter minyak goreng.
Harga ini setidaknya bisa menghemat Rp 21.500 apabila dibandingkan dengan membeli di pasaran.
“Kegiatan yang kami lakukan itu untuk menurunkan harga sembako. Kemudian mencegah inflasi. Termasuk memantau harga sembako. Sekaligus membantu masyarakat dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari,” jelas Mulyani, Selasa (27/2).
Lebih lanjut, Mulyani mengungkapkan, kegiatan serupa sudah dilaksanakan di 10 kecamatan.
Ditargetkan akan berlangsung di 26 kecamatan sehingga bisa merata. Setiap lokasi disiapkan 300 paket sembako yang bisa ditebus murah oleh masyarakat.
“Semuanya telah berjalan dengan kondusif. Kami harapkan masyarakat bisa memanfaatkan kegiatan ini dengan baik,” ujar Mulyani.
Ia mengakui, bahwa ketersediaan beras di Kota Bersinar dipastikan aman. Bahkan mampu surplus hingga 51 ribu ton beras.
Meski begitu, untuk harga beras masih tinggi sehingga kegiatan pasar murah terus digiatkan.
“Kami harapkan dengan pasar murah ini bisa menstabilkan harga sembako. Terlebih lagi sebentar lagi ibadah puasa. Memasuki bulan puasa untuk harga pangan diharapkan bisa stabil,” tambah Mulyani.
Diakui Mulyani, komoditas pangan yang mengalami kenaikan harga tidak hanya beras saja. Tetapi juga telur ayam.
Maka dari itu pihaknya meminta jajarannya untuk selalu sigap dalam merespon kenaikan harga sembako tersebut.
Salah satu warga Desa Sawahan, Kecamatan Juwiring, Sri, 59, mengaku senang sekali dengan adanya pasar murah di tengah kenaikan harga sembako.Salah satunya bisa membeli beras dengan harga terjangkau sekira Rp 54 ribu
“Kalau di pasaran harga berasnya bisa mencapai Rp 16 ribu per Kg. Kalau yang ini (di pasar murah) jauh di bawah harga pasaran. Kami harapkan program serupa ini bisa ada terus,” ucap Sri.
Lebih lanjut, Sri mengungkapkan, di rumahnya terdapat tiga anggota keluarga. Untuk beras 5 Kg bisa habis dalam waktu enam hari. Diakuinya pengeluarannya paling besar untuk beras dan lauk-pauk.
Sri mengaku, tetap membeli beras sesuai harga di pasaran karena lebih mementingkan kualitas. Guna menyiasati pengeluaran, Sri mengurangi biaya lainnya demi membeli beras yang berkualitas dan lauk-pauk. (ren)
Editor : Damianus Bram