Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

Warga Pondok Klaten Pindahkan Batu Yoni 1 Ton dari Tengah Kampung ke Kawasan Embung Sikajar, Ini Alasannya

Angga Purenda • Rabu, 6 Maret 2024 | 04:39 WIB
Warga Desa Pondok bersama pegiat cagar budaya saat membersihkan batu yoni di Kawasan Embung Sikajar, Selasa (5/3).
Warga Desa Pondok bersama pegiat cagar budaya saat membersihkan batu yoni di Kawasan Embung Sikajar, Selasa (5/3).

RADARSOLO.COM - Warga pindahkan sebuah batu yoni dengan berat sekira 1 ton yang berada di tengah Desa Pondok, Kecamatan Karanganom, Klaten, Selasa (5/3).

Awalnya batu yoni yang merupakan benda cagar budaya itu berada di tengah kampung.

Kemudian, diputuskan memindahkan batu yoni itu ke kawasan yang saat ini dikembangkan untuk Embung Sikajar.

Diketahui, batu yoni itu memang awalnya berada di kawasan Embung Sikajar, yang dahulunya menjadi lahan persawahan.

Kemudian, pada 1995 dipindahkan ke tengah kampung, dengan tujuan estetik sebagai wajah desa.

Hingga akhirnya Pemerintah Desa Pondok memutuskan mengembalikan batu yoni ke lokasi semula untuk mengembalikan nilai sejarah benda cagar budaya itu.

Pemindahan batu yoni menggunakan hand pallet, menempuh jarak 400 meter. Melibatkan sekira delapan orang.

Setelah sampai di lokasi, batu yoni dibersihkan terlebih dahulu.

Kepala Desa Pondok Budi Utama mengungkapkan, pemindahan batu yoni itu untuk mengembalikan nilai spiritual sejak para leluhur.

“Kita sebelumnya lakukan kajian mendalam melibatkan pegiat cagar budaya. Biar bagaimana pun kita selalu dan berusaha menghargai karya dari para leluhur,” jelas Budi, Selasa (5/3).

Lebih lanjut, Budi menjelaskan, sebelum 1980-an, di kawasan Embung Sikajar itu merupakan lahan pertanian untuk sumber kemakmuran masyarakat setempat.

Baca Juga: PDIP Klaten Siapkan Tiga Kader Potensial untuk Pilbup Klaten 2023, Siapa Saja?

Hasil panen dari sana bisa memberikan penghidupan bagi warga.

Namun, seiring berjalannya kawasan tersebut tidak tersentuh petani dan makin tak terurus.

Meski begitu, pemerintah desa terus melakukan kajian terkait pengembangan kawasan tersebut untuk memberikan kemakmuran.

Hingga kini telah dikembangkan Embung Sikajar sebagai pusat kegiatan dan perekonomian di sektor perikanan, perkebunan dan pertanian.

“(Pemindahan batu yoni,Red) Dari niat kami yang baik saja. Karena saya meyakini para leluhur dalam membangun dan menempatkannya penuh dengan perhitungan matang," papar Budi.

"Jadi karya para leluhur itu ditempatkan pada tempat yang dahulunya untuk menaruh harapan. Tidak asal membuat batu yoni saja,” lanjut dia.

Sebagai informasi, di lokasi semula peletakan batu yoni terdapat sumber mata air yang debitnya cukup besar. Yakni 30 liter per detik.

Tapi sumber mata air di kawasan itu terpencar di beberapa titik.

Pegiat cagar budaya asal Klaten, Hari Wahyudi membenarkan, batu yoni di Desa Pondok itu dulunya berada di lahan terbuka persawahan yang dekat dengan sumber mata air.

Hal itu, kata dia, semakin menegaskan bahwa batu yoni adalah untuk kesuburan di masa Mataram Kuno abad 8 hingga abad 10.

“Jadi karena di sini ada sumber mata air dan pertanian, otomatis masyarakat di era Mataram Kuno dulu meyakini dan memuja simbol berupa batu yoni itu sebagai ibu mereka," jelas Hari.

Menurutnya, batu yoni ini sebagai simbol kesuburan," kata dia.

"Saya melihat ini batu yoni lepas ya, kalau dilihat tidak ada bangunannya,” kata dia.

Baca Juga: Nyawa Tiga Pasien DBD di Boyolali Tak Tertolong, Jadi Warning agar Tak Malas Berantas Sarang Nyamuk

Lebih lanjut, Hari menyebut, batu yoni yang ditempatkan di lahan pertanian cukup lazim.

Bahkan berdasarkan data, lebih dari 50 persen batu yoni yang ditemukan di Klaten berada di lahan persawahan.

Hari mencatat, total jumlah keseluruhan yang terdata di Klaten terdapat 126 batu yoni. (ren/ria)

Editor : Syahaamah Fikria
#karanganom #klaten #batu yoni #benda cagar budaya #Embung Sikajar