RADARSOLO.COM- Makam Sunan Pandanaran di Desa Paseban, Kecamatan Bayat, Klaten ditutup selama Ramadhan.
Para peziarah tidak bisa memasuki gedong inten atau makam utama dari tokoh penyiar agama Islam tersebut.
Gedong inten berbentuk seperti rumah joglo yang di dalamnya terdapat cungkup untuk makam Sunan Pandanaran.
Didalamnya juga masih terdapat sejumlah makam yang masih memiliki kekerabatan dengan Sunan Pandanaran.
“Penutupan hanya dilakukan di makam utama saja. Tetapi peziarah masih bisa berkunjung hingga di sekitaran gedong inten,” jelas Kepala Desa Paseban, Al Eko Tri Raharjo, Selasa (12/3/2024).
Lebih lanjut, Eko menjelaskan, penutupan terhadap makam utama itu dilakukan sehari sebelum memasuki bulan puasa.
Tepatnya Minggu (10/3/2024) sekira pukul 16.00. Pintu gedong inten ditutup dengan dikunci selama satu bulan penuh.
“Alasannya kurang tahu, tapi yang dilakukan itu sudah menjadi tradisi dari dulu. Dilaksanakan setiap kali Ramadhan tiba. Kami tidak berani untuk membukakan, bahkan diminta raja maupun bupati, tetap tidak berani membukakan,” ujar Eko.
Penutupan makam utama Sunan Pandanaran telah diketahui para peziarah.
Meski begitu, tidak akan menyurutkan kedatangan para peziarah ke makam utama Sunan Pandanaran. Mengingat masih bisa berkunjung hingga di sekitar gedong inten.
“Dulu pernah penurunan saat Ramadhan karena ditutup total. Dulu tidak boleh masuk (seluruh kompleks Makam Sunan Pandanaran), hanya sampai pintu melengkung (dekat pendapa)," ucap dia.
"Sekarang peziarah sudah mengerti kalau masih boleh masuk, bisa sampai sekitaran gedong inten,” imbuh Eko.
Selama Ramadhan, kompleks makam Sunan Pandanaran tetap dibuka selama 24 jam.
Sedangkan terkait pembukaan makam utama akan dilakukan saat Lebaran nanti.
Peziarah sudah diperkenankan untuk masuk hingga ke gedong inten kembali.
Terkait riwayat Sunan Pandanaran, Eko mengungkapkan, untuk sejarahnya terdapat beberapa versi yang berkembang.
Tetapi berdasarkan keyakinan warga Desa Paseban, Sunan Pandanaran adalah Brawijaya V yang sempat menjadi Bupati Semarang hingga melakukan perjalanan ke daerah Bayat untuk menyiarkan agama Islam.
Makam Sunan Pandanaran berada di Bukit Jabalkat, Desa Paseban, Kecamatan Bayat, Kabupaten Klaten. Lokasinya berada di ketinggian 860 meter di atas permukaan laut (mdpl).
Kompleks makanya diperkirakan dibangun semasa pendiri Masjid Agung Demak dan Masjid Menara Kudus pada 1479-1549.
Kini kompleks Makam Sunan Pandanaran dikelola oleh Pemkab Klaten dan menjadi salah satu wisata religi di Klaten.
Keberadaannya mampu menarik ribuan peziarah yang datang setiap harinya dari berbagai daerah.
Seperti Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, Sumatera hingga Kalimantan. Para peziarah yang hendak masuk kompleks makam cukup membayar retribusi Rp 2.000. (ren/wa)
Editor : Tri Wahyu Cahyono