RADARSOLO.COM – Pondok pesantren (Ponpes) Al Manshur Popongan di Desa Tegalgondo, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Klaten masih eksis di usianya sekira 1 abad. Kini, memiliki ribuan santri. Berdirinya ponpes ini tidak bisa dilepaskan dari Tarekat Naqsyabandiyah-Khalidiyah yang berkembang di kampung tersebut.
Memasuki Dusun Popongan dengan mudah menjumpai para santri tampak lalu lalang menyusuri jalan kampung. Sedangkan di tengah kampung terdapat Masjid Al Manshur Popongan yang didirikan oleh KH Muhammad Manshur. Masjid tersebut digunakan para santri untuk menjalankan salat. Termasuk berbagai kegiatan lainnya yang lokasinya tak jauh dari pemondokan.
Ada sejumlah kegiatan yang dilakukan para santri di Ponpes Al Manshur Popongan selama Ramadhan kali ini. Seperti hari pertama puasa pada Selasa (12/3) siang, para santri putra mengikuti kegiataan sema’an alquran. Tradisi membaca dan mendengarkan pembacaan alquran di Masjid Al Manshur.
”Hal yang biasa dilakukan selama Ramadhan, kegiatannya berjalan selama 20 hari. Diawali dengan sema’an Alquran, lalu ada kilatan di sore harinya. Berlanjut salat Tarawih, istirahat sebentar lalu dilanjutkan dengan pengajian Alquran dan pengajian kitab,” jelas salah satu pengurus ponpes Al Manshur Popongan, Ibnu Fajar Sidik.
Fajar mengungkapkan, setiap tahunnya selalu ada regenerasi dari para santri. Maka itu, setiap kali datangnya Ramadhan selalu menekankan dan menerapkan standar yang sama kepada para santri. Terutama dari awal masuk ke Ponpes Al Manshur Popongan hingga selama satu tahun di pemondokan sudah bisa menguasai cara baca kitab.
”Termasuk bagaimana cara menghafal Alquran dan juz amma. Terlebih lagi setiap tahunnya ada event khataman Alquran yang dilaksanakan di hari ke-20. Kalau pengajian Alquran itu setiap maulud tanggal 1 sebagai peringatan KH Muhammad Manshur. Biasanya haul dan khataman,” jelas Fajar.
Lebih lanjut, selama Ramadhan pula ada santri yang melakukan pengajian satu kitab maupun dua kitab. Bisa berlangsung hingga pukul 23.00 maupun 00.00.
”Selama Ramadhan tidak ada kegiatan ekstrakulikuler di pondok. Biasanya dilaksanakan setiap Jumat tetapi kali ini ditiadakan karena untuk kegiatan ramadhan sepenuhnya. Jadi selama satu bulan, 20 hari itu bagaimana caranya bisa khataman kitab,” ujar Fajar. (ren/adi)
Editor : Adi Pras