RADARSOLO.COM – Produk keripik paru hingga keripik belut khas Klaten jadi incaran masyarakat di hari terakhir libur Lebaran pada Senin (15/4). Seperti yang terlihat di Gang Latar Putih, Kampung Tegal Kepatihan, Kelurahan Bareng, Klaten Tengah, Klaten yang ramai dikunjungi pembeli dari luar kota.
Seperti diketahui, Kampung Tegal Kepatihan dikenal sebagai sentra oleh-oleh Khas Klaten terutama keripik paru. Setidaknya ada enam pelaku usaha yang berjualan keripik paru di kampung tersebut. Pada momen libur Lebaran kali ini jadi tujuan utama pembeli berburu camilan bercita rasa gurih itu.
Salah satu pembeli keripik paru yakni Sutanto, 50, asal Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Jogjakarta (DIJ). Kebetulan dirinya sedang melakukan silaturahmi ke keluarga besarnya di Klaten. Momen tersebut juga dimanfaatkan untuk mampir dan memborong oleh-oleh di Kampung Tegal Kepatihan tersebut.
”Ini sudah menjadi langganan saya setiap kali mampir ke Klaten. Kali ini beli buat oleh-oleh untuk sanak saudara sebelum balik ke perantauan masing-masing,” ujar Sutanto kepada radarsolo.com, Senin (15/4).
Lebih lanjut, Sutanto mengungkapkan, hal yang membuatnya menyukai keripik paru karena rasanya yang gurih. Terlebih lagi cocok sebagai oleh-oleh sekaligus disantap untuk camilan di rumah. Maka itu, dirinya rela menempuh perjalanan dari Sleman ke Klaten demi membeli keripik paru yang khas tersebut.
”Selain beli keripik paru juga beli keripik belut yang rasanya enak. Saya beli ini agar keluarga juga tahu oleh-oleh khas Klaten ini. Kebetulan saya bekerja di Solo dan sering melintasi Klaten,” ujar Sutanto.
Sementara itu, salah satu pelaku usaha keripik paru di Kampung Tegal Kepatihan, Hendro Dwi Kurniawan, 37, mengungkapkan bahwa dalam satu bulan pada hari biasa bisa memproduksi 100 Kg. Tetapi ketika momen Lebaran bisa naik tujuh kali lipat karena tingginya permintaan.
”Untuk momen Lebaran untuk pembeli rata-rata didominasi dari luar kota. Terutama dari Jakarta yang membeli untuk oleh-oleh. Tetapi Jakarta memang menjadi salah satu kota pemasaran kami, selain ke Jogjakarta,” jelas Hendro.
Lebih lanjut, Hendro mengungkapkan, bahwa penjualan tidak hanya melayani pembeli yang datang ke rumah produksinya. Tetapi juga melayani pembelian secara online dengan tujuan ke sejumlah kota.
Ada pun harga keripik paru sendiri dibanderol dengan harga Rp 190 ribu per Kg. Meski ada kenaikan harga pada bahan seperti tepung saat Lebaran tetapi dia tidak menaikan harga jualnya.
”Untuk bahan baku kami menggunakan paru sapi dari lokal maupun impor seperti Australia. Jadi kami beli organ parunya saja. Untuk cita rasanya gurih dan cocok sebagai camilan menemani minum kopi,” jelas Hendro.
Selain memproduksi keripik paru, juga keripik belut. Ada pun bahan utama belut didatangkan langsung dari Jawa Timur seperti Malang. Ada pun harga keripik belut sendiri dibandrol Rp 180 ribu per Kg.
”Sebenarnya juga membuat keripik tempe dan rambak cakar juga. Tetapi untuk libur Lebaran ini permintaan tertinggi di keripik paru dan keripik belut. Jadi kami kejar produksi untuk kedua jenis keripik itu,” jelas Hendro. (ren/adi)
Editor : Adi Pras