RADARSOLO.COM – Perlintasan KA tak berpalang pintu di Desa Boto, Kecamatan Wonosari, Klaten yang jadi lokasi kecelakaan KA Argo Wilis dengan mobil pada Rabu (1/5), tak dijaga selama 24 jam.
Jalur yang melintasi jalur KA tersebut merupakan jalur alternatif bagi pengendara kendaraan. Terutama dari Kecamatan Delanggu ke Wonosari saat jalur utama mengalami kemacetan.
Perlintasan KA tanpa palang pintu itu tidak dijaga selama 24 jam penuh. Hanya pada momen tertentu seperti Lebaran, Natal dan Tahun Baru akan ditempatkan petugas atau relawan untuk berjaga. Termasuk saat waktu berangkat sekolah maupun kerja juga dijaga oleh linmas.
”Kalau pagi ya mulai pukul 06.00-08.00. Sedangkan pada siang mulai pukul 11.00 sampai selesai sekolahan. Kebetulan saya diminta oleh pihak sekolah SD N 3 Boto untuk menjaga perlintasan KA tanpa palang pintu ini,” ujar Sunaryo, 61, linmas Desa Boto, Rabu (1/5).
Sunaryo sebenarnya tidak hanya membantu menyeberangkan para siswa SD N 3 Boto saja. Mengingaat saat bersamaan juga menggunakan jalur tersebut untuk berangkat bekerja. Termasuk para karyawan pabrik yang melintasi jalur alternatif tersebut.
”Rata-rata yang melintasi perllintasan KA tanpa palang pintu di Desa Boto ini untuk menghindari kemacetan di Delanggu. Begitu juga Jalan Raya Pakis-Daleman,” imbuhnya.
Sunaryo sudah menjaga perlintasan KA tanpa palang pintu selama dua tahun setelah diminta oleh pihak sekolah. Bagi orang awam yang pertama kali melintas, tidak akan tampak kereta yang hendak melintas. Terlebih lagi jika kereta tidak membunyikan klakson.
”Kalau orang asli sini pasti sudah tahu kalau ada kereta yang mau lewat. Sedangkan mobil yang terlibat kecelakaan itu sepertinya tidak tahu (ada kereta yang hendak melintas),” ujar Sunaryo.
Sementara itu, warga lainnya Ngatmi, 43, mengaku kejadian kecelakaan di perlintasan KA tanpa palang pintu di Desa Boto yang melibatkan mobil baru pertama kali terjadi.
”Terakhir beberapa tahun yang lalu. Banyak warga yang melintasi perlintasan ini baik sepeda motor maupun mobil. Soalnya digunakan sebagai jalur alternatif,” ujar Ngatmi.
Lebih lanjut, dia cukup sering melintasi perlintasan tersebut baik menggunakan sepeda motor maupun mobil. Tetapi dengan adanya kejadian tersebut menjadikan dirinya was-was untuk melintas kembali.
”Kami harapkan setidaknya diberikan palang pintu untuk perlintasannya. Biar lebih aman,” ujar Ngatmi. (*/adi)
Editor : Adi Pras