KLATEN, Radar Solo – Proses pemulangan tenaga kerja wanita (TKW) asal Klaten yang kondisinya kritis terjangkit kanker otak di Dubai, Uni Emirat Arab (UEA) menemui jalan berliku.
Pemkab masih mengkaji teknis pemulangan Puput Erna Sri Rejeki, 34, itu. Sebab, perempuan asal Tegal Blateran, Klaten Tengah ini berangkat tanpa prosedur resmi.
“Yang dibutuhkan biaya pengobatan dan pemulangan. Sementara kemarin asumsi pemulangan saja dibutuhkan Rp 150 juta. Itu cukup besar. Sebenarnya tidak masalah kami (pemkab) lakukan. Tapi karena proses keberangkatan ilegal, ini harus kami sikapi seperti apa, masih dikaji,” ujar Sekretaris Daerah Klaten Jajang Prihono, Selasa (14/5).
Jajang menjelaskan, Pemkab Klaten tidak mempermasalahkan status pekerja migran tersebut. Menurut dia, hal itu tetap menjadi perhatian bersama pemerintah daerah untuk bisa memulangkan Puput ke Klaten.
“Kami terus berkoordinasi dengan pemerintah pusat maupun pemerintah provinsi. Nanti rekomendasi tindaklanjutnya seperti apa. Kami bisa membantu titik di mana, karena pekerjaannya bukan resmi,” ujar Jajang.
Berbagai upaya yang dilakukan pemkab diharapkan bisa segera memulangkan Puput ke tanah air. Tetapi dengan catatan tidak menyalahkan aturan. Sebab itu, Disperinaker Klaten terus berkoordinasi dengan stakeholder terkait pemulangan Puput.
Jajang memastikan bahwa pemkab juga sudah berkoordinasi dengan keluarga Puput di Klaten. Begitu juga ke pemerintah provinsi untuk membicarakan secara teknis terkait pemulangan Puput. Termasuk berkoordinasi dengan kedutaan untuk mengambil langkah selanjutnya.
Sementara itu, Kepala Disperinaker Klaten Luciana Rina Damayanti memastikan proses pemberangkatan Puput ke Dubai tidak melalui prosedur yang ditetapkan. Hal itu menjadikan tidak tercatat di disperinaker.
“Dikarenakan tidak melalui dinas sehingga tidak tahu banyak. Kami terus menggali informasi dari keluarga. Dikarenakan tidak ada data di dinas,” ujar Rina.
Rina menjelaskan, jajarannya langsung bergerak setelah adanya informasi terkait kondisi Puput viral di media sosial. Lalu dilakukan penelusuran ke kediaman keluarga Puput di Klaten.
Termasuk berkoordinasi dan berkonsultasi dengan pemerintah provinsi maupun pusat terkait teknis pemulangannya nanti seperti apa.
Seperti diketahui Puput sudah berada di Dubai sejak 2021. Sebelum akhirnya mengalami kondisi kritis karena sakit kanker otak dan menjalani perawatan di rumah sakit.
Tetapi karena biaya pemulangan yang mencapai Rp 150 juta menjadi kendala tersendiri bagi keluarga Puput.
“Saya sebenarnya bingung mau melapor ke mana. Kalau melapor kepolisian kan ya jauh sekali karena bukan jalurnya. Akhirnya saya memutuskan untuk melapor ke kelurahan bahwa yang viral di media sosial itu anak saya,” jelas ayah Puput, Sutikno yang sehari-hari bekerja sebagai sopir lepas. (ren/bun)
Editor : Kabun Triyatno