RADARSOLO.COM–Penamaan Demakijo, sebuah desa di Kecamatan Karangnongko, Klaten ini disebut-sebut terinpisrasi utusan Pangeran Diponegoro.
Kala itu, Kerajaan Demak meminta bala bantuan kepada Kerajaan Mataram di Yogyakarta.
Dikutip dari buku Cerita-Cerita Legenda di Kabupaten Klaten karya Danang Santosa- Wisnu Aji Nugraha, permohonan bantuan dari Kerajaan Demak cepat direspons Pangeran Diponegoro.
Pangeran Diponegoro kemudian mengutus orang kepercayaanya untuk menyampikan kabar tersebut kepada Kerajaan Demak.
Berpakaian serbahijau, utusan Pangeran Diponegoro berkuda menuju Kerajaan Demak.
Nahas, setibanya di sebuah desa, pembawa pesan tersebut jatuh sakit hingga akhirnya meninggal dunia.
Dari kejadian tersebut, desa setempat dinamakan Demakijo.
Demak merupakan tujuan dari utusan Pangeran Diponegoro, sedangkan ijo (hijau) merujuk dari pakaian yang dikenakan.
Tak jauh dari Desa Demakijo, terdapat dusun bernama Pakel.
Nama tersebut juga tak lepas dari cerita rakyat tentang Keraton Kartasura yang sering mendapat upeti dari sebuah daerah penghasil buah dan sayur.
Buah itu berupa pakel. Ternyata pembesar Keraton Kartasura sangat menyukainya.
Pembesar Keraton Kartasura kerap menanyakan daerah asal buah tersebut.
Kemudian diperoleh informasi bahwa daerah yang dimaksud berada di kaki Gunung Merapi.
Seorang abdi dalem Keraton Kartasura diutus mendatangi daerah penghasil pakel.
Dia menanyakan bentuk buah pakel dan rasanya kepada penduduk setempat. Dari situ, wilayah setempat dinamakan Dusun Pakel.
Sebelum kembali ke Keraton Kartasura, abdi dalem dibawakan oleh-oleh 10 buah pakel.
Di perjalanan, abdi dalem memakan 1 buah pakel. Tak disangka, rasanya sangat manis.
Si abdi dalem kemudian berujar, “Soponyono (tak menyangkak), kok enak tenan,” ucapnya.
Lokasi tempat abdi dalem makan buah pakel kemudian dinamakan Soponyanan.
Karena telanjur memakan 1 buah pakel, abdi dalem menggantinya dengan sebuah batu agar terlihat genap 10 buah.
Selanjutnya daerah itu diberi nama Puluhwatu.
Di Desa Demakijo terdapat Masjid Asy Syafa'ah. Tempat ibadah umat muslim ini disebut-sebut sudah berusia ratusan tahun.
Layaknya masjid kuno, Masjid Asy Syafa’ah memiliki tiang penyangga dari kayu berukuran cukup besar sebanyak empat buah.
Dari cerita rakyat, dibangunnya Masjid Asy Syafa’ah merupakan hadian dari Keraton Kasunanan Surakarta.
Kala itu, ada pembesar Keraton Kasunanan Surakarta yang hendak sholat di desa setempat tapi tidak menemukan masjid.
Akhirnya, dibangunlah Masjid Asy Syafa’ah yang masih tegak berdiri hingga saat ini. (wa)
Editor : Tri Wahyu Cahyono