Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

Misteri Hilangnya Uang di Pasar Gentongan Klaten: Dijuluki Pasar Tuyul, Korban Pedagang dan Pembeli

Angga Purenda • Minggu, 26 Mei 2024 | 19:29 WIB
Suasana Pasar Gentongan di Desa Gemblegan, Kecamatan Kalikotes, Klaten, Sabtu pagi (25/5/2024). Pasar ini dijuluki Pasar Tuyul, karena seringnya orang kehilangan uang.
Suasana Pasar Gentongan di Desa Gemblegan, Kecamatan Kalikotes, Klaten, Sabtu pagi (25/5/2024). Pasar ini dijuluki Pasar Tuyul, karena seringnya orang kehilangan uang.

RADARSOLO.COM - Pasar Gentongan selama ini dikelola Pemerintah Desa Gemblegan, Kecamatan Kalikotes, Kabupaten Klaten. Tiap hari, pasar tradisional ini ramai pembeli.

Tapi siapa sangka, pasar tersebut menyimpan misteri terkait hilangnya uang pedagang maupun pembeli.

Dagangan yang dijual di Pasar Gentongan cukup komplet. Selain sayuran, daging, telur, dan buah-buahan, sejumlah kebutuhan pokok lainnya juga tersedia. Termasuk perabotan rumah tangga.

Pasar Gentongan ini sudah ada sejak tahun 1964. Berdiri di atas lahan seluas 60 x 70 meter.

Lokasinya berada di tepi jalan raya yang cukup ramai. Terlebih lagi berdekatan dengan permukiman padat penduduk.

Di balik keramaian pasar tersebut, ada cerita mistis yang sulit dijelaskan dengan akal sehat. Yakni seringnya kasus hilangnya uang milik pedagang maupun pembeli.

“Saya jualan di sini sejak masih 15 tahun. Pasarnya dulu belum seramai sekarang. Dulu penanda batas pasar hanya pakai bambu,” ujar pedagang pisang di Pasar Gentongan Mbah Lakon, 74, kepada Jawa Pos Radar Solo, kemarin (25/6/2024).

Mbah Lakon mengaku sudah berjualan di Pasar Gentongan sejak pertama kali berdiri. Dulu, dia sempat berjualan ketela.

Ditanya julukan Pasar Tuyul yang mengiringi Pasare Gentongan, Mbah Lakon mantap menganggukkan kepala.

Dia juga mengaku, bertahun-tahun lalu pernah kehilangan uang saat berjualan. Nominal uangnya yang hilang Rp 10.000.

Padahal menurut mitos, uang yang disimpan dengan diselipkan pada kain jarit yang menempel di badan tidak akan diambil tuyul.

“Tapi nyatanya uang saya dulu pernah hilang juga. Kalau soal julukan Pasar Tuyul, saya tidak tahu pasti cerita. Tetapi memang sudah sejak dulu dijuluki Pasar Tuyul,” imbuh Mbah Lakon.

Hingga kini, kabar hilangnya uang milik pedagang maupun pembeli secara misterius masih terjadi. Meskipun tidak setiap hari hilang. Nominal uang yang raib, paling besar Rp 100.000.

“Pernah ada pembeli kehilangan uang Rp 100.000 saat belanja. Padahal uangnya digenggam. Tapi kami tidak melihat sendiri kejadian,” beber petugas di Pasar Gentongan Diah.

Selain pembeli, Diah juga sering menerima keluhan dari pedagang yang kehilangan uang secara misterius.

Nah, warga sekitar maupun pedagang percaya, kejadian hilangnya uang tersebut dikaitkan dengan sosok tuyul.

Kendati demikian, petugas Pasar Gentongan terus berusaha menghilangkan image negatif tersebut.

Salah satunya dengan sosialisasi keliling tiap sudut pasar, yang dihuni sekira 200 pedagang tersebut. Mengimbau pedagang maupun pembeli untuk selalu berhati-hati saat bertransaksi.

“Ini untuk menyakinkan pembeli agar tidak takut belanja di Pasar Gentongan. Soalnya cerita tuyul ini kan sangat memengaruhi. Setahu saya, Pasar Tuyul itu mitos dan masih simpang siur ceritanya,” beber Diah. (ren/fer)

Editor : Damianus Bram
#pasar tradisional #misteri 13 kaki manusia #uang hilang #Pasar Gentongan #pasar tuyul