Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Melirik Wisata Religi Makam Sunan Pandanaran di Bayat, Klaten: Selalu Ramai Peziarah dari Berbagai Daerah

Damianus Bram • Kamis, 6 Juni 2024 | 22:06 WIB
Wisata religi makam Sunan Pandanaran di Bayat, Klaten
Wisata religi makam Sunan Pandanaran di Bayat, Klaten

RADARSOLO.COM - Kabupaten Klaten memang terkenal dengan tempat wisata alam yang indah.

Meski demikian, Kota Bersinar (sebutan Kabupaten Klaten) juga terdapat tempat wisata religi yang tak kalah terkenal dengan wisata alam lainnya.

Wisata religi tersebut adalah Makam Sunan Pandanaran yang terletak di Desa Paseban, Kecamatan Bayat, Kabupaten Klaten.

Makam Sunan Pandanaran ini dikenal sebagai tempat ziarah umat Muslim dari berbagai daerah di Indonesia.

Sebagai informasi, Ki Ageng Pandanaran atau yang dikenal dengan Sunan Pandanaran adalah seorang Adipati Semarang yang atas petunjuk Sunan Kalijaga meninggalkan Kota Semarang untuk menyiarkan agama Islam.

Setelah itu dia berjelajah dan menetap di daerah pegunungan bagian selatan yakni Bayat dan sekitarnya.

Kini jejaknya masih bisa dilihat pada Kompleks Makam Sunan Pandanaran di Bukit Jabalkat, Desa Paseban, Bayat, Klaten.

Lokasinya berada di ketinggian 860 meter di atas permukaan laut (mdpl).

Kompleks makam itu diperkirakan dibangun semasa pendirian Masjid Agung Demak dan Masjid Menara Kudus pada 1479-1549.

Kompleks Makam Sunan Pandanaran yang dikelola Pemkab Klaten telah menjadi salah satu wisata religi di Kabupaten Klaten.

Keberadaannya mampu menarik ribuan peziarah yang datang setiap harinya dari berbagai daerah. Mulai dari Jawa Tengah, Jawa Timur, juga Jawa Barat, Sumatera hingga Kalimantan.

Puncak kedatangan peziarah ke makam Bupati Semarang kedua itu pada saat penanggalan Jawa yakni bulan Suro dan Ruwah.

Dimana pada hari biasa hanya ada 1.000-2.000 peziarah, pada momen ini bisa sampai 3.000 peziarah dalam sehari.

Para peziarah yang hendak masuk ke Kompleks Makam Sunan Pandanaran itu cukup membayar retribusi Rp 2.000 saja.

Sebelum itu, peziarah harus menapaki 300 anak tangga dengan jarak sekitar 300 meter hingga sampai ke puncak.

Maka itu diperlukan stamina yang kuat untuk berziarah. Tetapi bagi peziarah lansia bisa memanfaatkan jasa ojek yang berada di depan loket dengan membayar Rp 10.000 setiap kali jalan.

Fasilitas yang tersedia di komplek makam Sunan Pandanaran tidak hanya sebuah tempat pemakaman saja, tetapi juga terdapat pasar yang menyediakan berbagai oleh-oleh.

Jenis oleh-oleh dari tempat wisata ini berbagai macam, seperti makanan dan jajanan khas Bayat yang terkenal dengan intip goreng, lalu terdapat dodol, wingko babat, bakpia dan masih banyak lagi.

Selain makanan terdapat oleh-oleh berupa kaos, batik, daster, berbagai kerajinan gerabah, kerajinan kayu, tasbih, dan lainnya.

Selain itu terdapat fasilitas tempat parkir yang luas, mushola dan toilet umum yang lokasinya tak jauh dari komplek makam Sunan Pandanaran.

Makam Sunan Pandanaran ini buka 24 jam, menurut Pak Sarminto penjaga loket masuk objek wisata ini, pada malam Jumat Legi biasanya pengunjung yang berdatangan lebih banyak.

"Tiket masuknya hanya Rp. 2.000, yang jaga loket bergantian karena shift, biasanya pengunjung datang dengan rombongan menggunakan bus besar, hari ini ada rombongan dari Jepara, Bantul, dan Purwodadi," ungkap Pak Sarminto, kemarin.

Selain harga tiket masuk yang terjangkau, untuk biaya parkir sepeda motor dan mobil pengunjung hanya mengeluarkan uang Rp. 2.000 saja. (mg3/dam)

Editor : Damianus Bram
#Wisata di Klaten #klaten #Makam Sunan Pandanaran #Wisata Religi #ziarah