Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Ritual di Sendang Lanang di Desa Kalitengah, Wedi, Klaten: Padusan Disini, Bikin Seniman Tampil Moncer

Angga Purenda • Minggu, 9 Juni 2024 | 21:28 WIB
TAK TERAWAT: Warga di sekitar Sendang Lanang di Dusun Slegrengan, Desa Kalitengah, Kecamatan Wedi, Klaten, yang dulu sering digunakan untuk ritual, Jumat (7/6/2024).
TAK TERAWAT: Warga di sekitar Sendang Lanang di Dusun Slegrengan, Desa Kalitengah, Kecamatan Wedi, Klaten, yang dulu sering digunakan untuk ritual, Jumat (7/6/2024).

RADARSOLO.COM - Di Dusun Slegrengan, Desa Kalitengah, Kecamatan Wedi, Klaten terdapat sumber mata air bernama Sendang Lanang.

Lokasi ini diyakini ada sosok penunggu dari Gunung Merapi. Sering digunakan untuk ritual para seniman reog hingga jathilan.

Sendang Lanang disebut menyimpan cerita mitos yang masih berkembang hingga saat ini. Sepintas kondisinya tidak terawat. Namun, sendang ini sering menjadi lokasi ritual bagi pekerja seni reog hingga jathilan. Ritual biasanya dilakukan tiap malam Jumat.

Para pelaku ritual mayoritas hadir dari luar daerah. Ada yang membawa sesaji, meminum air, hingga berendam di sendang sejak sore hingga tengah malam.

Mereka percaya, setelah ritual di Sendang Lanang, skill mereka dalam pertunjukan kian terasah. Bahkan sampai moncer dan banjir orderan untuk tampil.

“Sendang Lanang ini dulunya dipakai buat padusan (berendam) bagi para pelaku kesenian. Misalnya reog, jathilan, ketoprak, dan campursari di era 2000-an. Tetapi sejak 2006 ke sini, sudah mulai sepi,” kata Kepala Dusun (Kadus) III Desa Kalitengah Udiyono, Jumat (7/6/2024).

Udiyono menambahkan, sebelumnya ada juri kunci yang menjaga sendang berukuran 5 x 7 meter tersebut.

Bahkan sendang tersebut dijaga estafet oleh tiga juri kunci. Sayangnya, kini sudah tidak ada penerus juru kunci di sana.

“Cerita dari para sesepuh dahulu, ada penunggunya dari Gunung Merapi. Penunggunya kata juru kuncinya dulu, adalah Kiai Suto Manggolo. Ditemani dua asistennya, Gus Darman dan Gus Daryo,” imbuh Udiyono.

Sendang Lanang sejak dulu tidak pernah dimanfaatkan untuk pengairan lahan pertanian. Apalagi kondisi saat ini airnya cukup dangkal dan keruh. Kendalamannya hanya sekitar 60 sentimeter (cm).

“Tidak digunakan untuk pengairan sama sekali, karena debit airnya kecil. Dulu dalamnya sampai 1,5 meter,” beber Udiyono.

Terkait pelaku ritual, ada yang dari Jogja, Solo, dan Semarang. Datang secara rombongan dengan menyewa bus. Ada pula yang jalan kaki. “Katanya dulu belum mantap kalau tidak padusan di Sendang Lanang,” bebernya.

Udiyono mengaku saat masih kecil dulu, sering mendapati kelompok kesenian yang padusan di Sendang Lanang.

Setelah selesai padusan, biasanya tampil di sekitar sendang. Lalu membagi-bagikan uang ke anak-anak.

“Ada yang percaya kalau padusan di Sendang Lanang bisa moncer namanya. Termasuk moncer tanggapannya. Semakin laris.

Sementara itu, sejatinya ada dua sendang di lokasi tersebut. Satunya bernama Sendang Wedok. Hanya berjarak sekitar 300 meter dari Sendang Lanang.

“Jadi dulu yang seniman perempuan padusan di Sendang Wedok. Tapi sekarang ditutup seng, karena lahannya dipakai untuk produksi gula jawa,” paparnya. (ren/fer)

Editor : Damianus Bram
#Sendang Lanang #Desa Kalitengah #reog #seniman #jathilan