Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Lima Kecamatan di Klaten Ini Rawan Kekeringan selama Musim Kemarau

Angga Purenda • Rabu, 3 Juli 2024 | 01:06 WIB

 

Kepala Pelaksana BPBD Klaten Syahruna. (Angga Purenda/Radar Solo)
Kepala Pelaksana BPBD Klaten Syahruna. (Angga Purenda/Radar Solo)

RADARSOLO.COM – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Klaten mengimbau warga Klaten untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap bencana kekeringan. Menyusul prediksi puncak musim kemarau yang terjadi pada Juli-Agustus.

Sebelumnya, Pemkab Klaten sudah menetapkan status siaga darurat terkait bencana kekeringan. Hal itu diwujudkan dalam surat keputusan (SK) bupati Klaten.

”Berdasarkan informasi dari BMKG, puncak musim kemarau tahun ini diprediksi terjadi pada Juli-Agustus. Sementara di bulan sebelumnya masuk kemarau basah,” ujar Kepala Pelaksana BPBD Klaten Syahruna, Selasa (2/7).

Syahruna menjelaskan, musim kemarau pada tahun ini diperkirakan berlangsung hingga September atau Oktober. Sedangkan untuk penetapan status siaga darurat bencana kekeringan dari dampak musim kemarau sudah dikeluarkan pada Mei lalu.

Dia menambahkan, meski pada bulan sebelumnya masih masuk musim kemarau basah tetapi sudah ada beberapa desa yang mengajukan bantuan dropping air bersih. Terutama dari Kecamatan Kemalang, Bayat, dan Jatinom.

”Untuk stok air bersih sejauh ini masih aman masih punya 400-an (tangki). Apalagi juga ada tambahan bantuan dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sebesar Rp 150 juta untuk dropping air juga. Kondisinya kan kemarau basah, jadi masih cukup untuk lama,” ujar Syahruna.

Dia mengimbau warga Klaten yang tinggal di daerah rawan kekeringan untuk meningkatkan kewaspadaannya saat memasuki puncak musim kemarau. Syahruna pun mempersilakan kepada masyarakat yang mengalami krisis air bersih untuk mengajukan bantuan dropping ke BPBD Klaten.

”Kami imbau masyarakat untuk bisa hemat air. Tapi yang pasti untuk dropping air bersih jalan terus,” tambah Syahruna.

Sementara itu, Sekretaris Daerah (Sekda) Klaten Jajang Prihono mengungkapkan daerah yang rawan kekeringan untuk pertanian di Klaten meliputi Kecamatan Cawas, Bayat, Wedi hingga Juwiring. Sedangkan untuk daerah yang rawan kekurangan air bersih di wilayah lereng Merapi yakni Kecamatan Kemalang.

”Nantinya akan berpengaruh terhadap masa tanam. Kami akan ambil langkah sesuai hasil asesmen-nya. Kalau memang tidak bisa menyediakan air, paling tidak ada bantuan lain, untuk masa tanam berikutnya,” ujar Jajang. (ren/adi)

Editor : Adi Pras
#klaten #bupati klaten #BMKG #kemarau #kekeringan #bnpb #Jajang Prihono #dropping #bpbd