Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features

30 Pasien DBD di Klaten Meninggal, Waspadai Siklus Pelana Kuda

Angga Purenda • Rabu, 3 Juli 2024 | 02:10 WIB
Pelaksanaan fogging di Desa Klepu, Kecamatan Ceper, Klaten, beberapa waktu lalu. (Angga Purenda/Radar Solo)
Pelaksanaan fogging di Desa Klepu, Kecamatan Ceper, Klaten, beberapa waktu lalu. (Angga Purenda/Radar Solo)

RADARSOLO.COM – Dinas Kesehatan (Dinkes) Klaten terus mensosialisasikan terkait penanganan ketika terkena demam berdarah dengue (DBD). Terutama saat fase pelana kuda. Mengingat kurang dipahami masyarakat sehingga dalam penanganannya tidak tepat.

Berdasarkan data Dinkes Klaten terdapat 868 kasus dengan 30 kematian akibat DBD hingga minggu ke-25 pada tahun ini. Hingga saat ini melalui petugas dari 34 puskesmas yang tersebar di 26 kecamatan terus masif melakukan sosialisasi penanganan guna menekan kasus kematian.

”Kasus kematian terjadi karena penatalaksana yang kurang sesuai. Mulai dari proses membawa ke pusat layanan kesehatannya. Bisa juga dari proses rujukannya atau penanganan di rumah sakitnya,” jelas Kepala Dinkes Klaten Anggit Budiarto, Selasa (2/7).

Lebih lanjut, Anggit menjelaskan, berdasarkan evaluasi yang dilakukan dinkes terhadap per kasus di kondisi terkini sudah dilaksanakan penatalaksananya sesuai kompetensinya. Begitu juga rujukan ke rumah sakit.

”Mungkin saat di rumah sudah panasnya (demam) lebih. Jadi yang harus kami ingatkan kepada masyarakat terkait terjadinya fase pelana kuda dari DBD ini. Dikiranya sudah sembuh sehingga aktivitasnya berlebihan,” ujar Anggit.

Sebagai informasi, siklus pelana kuda merupakan sebutan bagi tiga fase demam yang bergerak naik turun pada pasien DBD. Fase demam tinggi, terjadi pada hari pertama dan kedua setelah masa inkubasi virus yang dibawa oleh nyamuk aedes aegypti.

Pada fase tersebut penderita akan mengalami demam tinggi kisaran 39-41 derajat celcius. Kemudian pada hari ketiga bisa mengalami penurunan panas. Tetapi waspadai pada hari keempat hingga kelima karena memasuki masa risiko tertinggi dari DBD dapat terjadi.

”Saat adanya penurunan panas ini dikira sudah sembuh. Pokoknya terkait ini harus benar-benar serius. Walaupun panasnya sudah turun, perlu dilakukan pengecekan ke laboratorium. Kaitannya dengan DBD ini,” ujar Anggit.

Di samping memahami fase pelana kuda dalam DBD, juga perlu dilakukan penekanan kasus lewat pemberantasan sarang nyamuk (PSN). Masyarakat didorong untuk melakukan hal itu di lingkungannya masing-masing.

Termasuk melakukan pelaporan secara rutin yang dilaksanakan oleh juru pantau jentik (jumantik) nyamuk. (ren/adi)

Editor : Adi Pras
#PSN #aedes aegypti #pelana kuda #demam berdarah dengue (DBD) #jumantik #Dinkes Klaten #puskesmas #DBD