Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

Sempat Terpuruk saat Pandemi Covid-19, Produk Kerajinan Kipas-Dompet Asal Klaten Kini Merambah Bali

Angga Purenda • Minggu, 7 Juli 2024 | 20:50 WIB
Perajin kipas dan dompet asal Kecamatan Polanharjo, Klaten kebanjiran pesanan. (Angga Purenda/Radar Solo)
Perajin kipas dan dompet asal Kecamatan Polanharjo, Klaten kebanjiran pesanan. (Angga Purenda/Radar Solo)

RADARSOLO.COM - Kerajinan kipas dan dompet dari Kecamatan Polanharjo, Klaten sempat terpuruk pada saat pandemi Covid-19. Tetapi kini mulai bangkit lagi dengan merambah pasar pulau dewata Bali.

Salah satu sentra kerajinan kipas dan dompet di Polanharjo berada di Desa Keprabon dan Kebonharjo.

Salab satu perajinnya adalah Surani, 51, warga Dusun Sirukun, Desa Kebonharjo.

Surani mampu memproduksi 1.000 kipas maupun dompet dalam dua hari. Ada pun pesanan datang dari para pedagang suvenir maupun perorangan.

Hasil kerajinannya biasa digunakan untuk suvenir hajatan serta dipasarkan ke tempat wisata.

“Dulu sempat anjlok karena pandemi. Sempat ganti usaha sortir cabai. Kemudian sedikit-sedikit ada pesanan lagi setelah pernikahan boleh kembali digelar di gedung,” ujar Surani, saat ditemui radarsolo.com, Minggu (7/7).

Seusai Lebaran, permintaan terhadap produk kipas dan dompet mengalami lonjakan.

Termasuk yang sedang ramai saat ini yakni pesanan dompet yang khusus dipasarkan untuk wilayah Bali.

“Memang permintaan banyak, tetapi kami terkendala bahan baku. Terutama bambu untuk bagian gagang. Soalnya tidak setiap saat bahannya selalu tersedia,” jelas Surani

Terkait harga, Surani mengungkapkan tergantung dengan ukuran. Mulai dari Rp 1.800 hingga Rp 3.600 per buah untuk kipasnya. Sedangkan untuk harga dompet mulai dari Rp 1.000 sampai Rp 8.000 per buah.

“Tapi itu harga dari sini ya. Kalau sudah sampai di Bali, harganya tentu sudah berbeda,” tambah Surani.

Sementara itu, perajin lainnya, Sri Lestari, 54, mengungkapkan sudah puluhan tahun membantu proses produksi kipas. Terutama dalam memontong kain sesuai ukuran yang telah ditentukan di rumahnya.

“Dalam sehari, rata-rata bisa memotong kain untuk 30 kodi. Alhamdulillah bisa untuk bantu-bantu keuangan keluarga sambil mengurus rumah,” ujar perempuan yang akrab dipanggil Tari ini.

Dia pun bangga, produk kipas buatan daerahnya tidak sekadar menjadi suvenir dalam hajatan saja. Tetapi sudah menjadi oleh-oleh bagi wisatawan yang berkunjung ke Pulau Bali. (ren/adi)

Editor : Adi Pras
#klaten #bali #dompet #Kipas #Perajin #covid-19 #Polanharjo #suvenir