RADARSOLO.COM - Desa Demakijo, Kecamatan Karangnongko, Klaten termasuk wilayah yang diterjang proyek Tol Solo-Jogja.
Hadirnya proyek strategis nasional ini ditangkap pemerintah desa (pemdes) setempat, dengan membangun pusat kuliner. Tepat di tepian jalan tol tersebut.
Pusat kuliner akan dibangun di salah satu jalan desa, yang merupakan akses menuju lahan pertanian. Lokasinya tepat di tepian proyek Tol Solo-Jogja.
Jalan desa ini juga didukung dengan hamparan “permadani hijau” alias lahan pertanian yang tumbuh subur.
“Lokasi tersebut sering digunakan anak muda untuk nongkrong di sore hari. Di sisi kanan dan kiri baru saja dibangun saluran irigasi, sepanjang 360 meter dengan air yang mengalir sepanjang tahun,” kata Kepala Desa (Kades) Demakijo Ery Karyatno, kemarin (2/8/2024).
Ery mengaku air irigasi tersebut bersumber dari mata air. Mengairi lahan pertanian di Desa Demakijo seluas 54 hektare. Selain itu, akses pertanian di sana juga beririsan dengan ruas jalan utama desa.
“Memang setiap sore banyak orang yang nongkrong untuk ngopi dan sebagainya. Tapi kami memang belum menata sedemikian rupa. Karena proyek tol belum selesai. Masih berdebu dan kurang nyaman,” imbuh Ery.
Setelah proyek tol kelar, Pemdes Demakijo mulai serius menata akses pertanian di sana sebagai pusat perekonomian. Bahkan site plan-nya sudah jadi.
“Konsepnya sendiri akan kami jadikan pusat kuliner. Nantinya kami akan hidupkan kembali lampion yang sebelumnya pernah ada. Kami juga akan kami pasang kamera CCTV untuk keamanan. Supaya nanti tidak ada aksi coret-coret dan sebagainya,” beber Ery.
Diakui Ery, akses pertanian tersebut cukup strategis sebagai pusat perekonomian. Karena jaraknya tak jauh dengan Pasar Puluhwatu yang sudah beroperasi.
Selain itu, pengembangan pusat kuliner selaras dengan hadirnya rest area Tol Solo-Jogja di Desa Demakijo.
“Potensi kuliner di Demakijo ada keripik tempe, keripik belut, dan kue apem. Itu menjadi kuliner khas daerah kami,” ujar Ery.
Setelah pusat kuliner rampung dibangun, pengunjung bisa menikmati kuliner dengan view hamparan sawah dan jalan tol.
Tahun sebelumnya, Pendes Demakijo sudah melakukan uji coba lewat Kampung Ramadan. Gelaran ini menghadirkan berbagai produk kuliner di lokasi tersebut.
“Kami berharap bisa menjadi pusat ekonomi warga Desa Demakijo, sekaligus pengembangan UMKM (usaha mikro kecil dan menengah) desa kami. Terlebih dengan view kegiatan petani di lahan persawahan,” papar Ery.
Selama ini, pendapatan asli desa (PADes) Demakijo bersumber dari sewa lelang tanah bengkok dan sewa ruko. Rata-rata pemasukan PADes mencapai Rp 70 juta per tahun.
Terkait komitmen melestarikan keberadaan lahan hijau, Ery mengaku sduah ada peraturan desa (perdes).
Salah satunya poinnya, tidak mengizinkan industri batu bata merah. Biasanya, bata merah mengambil bahan baku tanah dari lahan pertanian.
“Total lahan pertanian di Desa Demakijo itu awalnya 78 hektare. Kemudian yang kena proyek tol seluas 8 hektare. Sekarang tinggal 70 hektare. Ini landasan kami untuk tetap mempertahankan lahan hijau,” bebernya. (ren/fer)
Editor : Damianus Bram