RADARSOLO.COM - Usai berenang di Umbul Pluneng, Kecamatan Kebonarum, Klaten tak ada salahnya mencoba kuliner khasnya yang sudah melegenda. Yakni Tahu Kupat Bu Endang Pluneng yang sudah eksis sejak 1985. Menariknya, setiap kali menikmati sajian kuliner bercita rasa manis dan gurih itu, biasanya ditemani teh poci yang hangat.
Hanya sekira 350 meter dari Umbul Pluneng, sudah sampai ke Warung Tahu Kupat Bu Endang yang berada di pinggir Jalan Kebonarum-Karangnongko. Saat berkunjung, radarsolo.com langsung ditemui oleh Lestari, 50. Dia adalah generasi ketiga yang meneruskan usaha tahu kupat yang sudah dijajakan secara turun menurun.
“Kalau Bu Endang (generasi kedua) kan sudah lanjut usia, jadi saya yang menggantikan di warung. Tapi yang pertama yang berjualan itu Mbah Trimo sejak 1985. Begitu juga tahu kupat sudah dijual sejak dulu,” ujar Perempuan yang akrab dipanggil Tari kepada radarsolo.com, Jumat (20/9/2024).
Lebih lanjut, Tari mengungkapkan, bahwa pada 1985, buka selama 24 jam penuh karena jarangnya warung saat ini. Saat itu yang dijajakan tidak hanya tahu kupat saja tetapi juga nasi pecel, nasi bandeng dan sambal. Kini menu yang dijual selain tahu kupat, juga gado-gado serta mie goreng dan rebus.
“Kenapa dulu menjual tahu kupat, karena Mbah Trimo sering jajan saat bekerja di daerah Gondang. Setelah pension mau apa ya, akhirnya ya jual tahu kupat itu. Tetapi warung pertama kali itu gedhek (anyaman bambu) di sawah,” ujar Tari.
Ia mengungkapkan, sejak muda memang membantu menjual tahu kupat tersebut. Hingga akhirnya mendapatkan amanah untuk bisa meneruskan usaha tersebut sampai saat ini. Lokasinya pun tak pernah pindah, warung untuk berjualan dari pertama hingga saat ini masih sama.
Tari sendiri sudah mulai menyiapkan tahu kupat dengan memproduksi kupat terlebih dahulu sejak Pukul 02.00 dengan dibantu dua karyawannya. Rata-rata dalam sehari, Tari membuat kupat dengan berbahan dasar beras sebanyak 10-15 Kg lebih. Sedangkan warung baru buka Pukul 08.00-17.00.
“Dalam satu porsi tahu kupat, berisikan kupat, tahu goreng, kubis, kecambah, seledri dan taburan bawang goreng. Lalu disiram dengan kuah dari gula jawa, tetapi tidak kental maupun cair sekali. Bisa juga mendapatkan tambahan berupa irisan bakwan dan telur yang digoreng secara dadar maupun ceplok. Kami sesuaikan selera pelanggan,” tambah Tari.
Untuk satu porsi tahun kupat yang dijajakan Tari dibandrol dengan keluarga Rp 13.000 per porsi. Sedangkan kalau tambah dengan telur goreng dibandrol dengan harga Rp 18.000 per porsi. Sementara jika ditambahi lagi dengan irisan bakwan menjadi Rp 20.000 per porsi.
Pada hari biasa, Tari bisa melayani permintaan hingga 100 porsi sehari. Sedangkan saat akhir pekan bisa meningkat dua kali lipat menjadi 200 porsi dalam sehari. Pelanggannya pun yang datang tidak hanya dari Klaten saja tetapi juga Solo, Sukoharjo dan Jogja.
“Mereka yang datang juga ada wisatawan dari Umbul Pluneng juga mampir ke sini. Ada juga turis asing setelah berwisata Prambanan yang diantar oleh tour guide ke warung kami. Pernah juga kedatangan pelanggan dari Belanda yang kebetulan sedang di Indonesia,” tambah Tari.
Sementara itu, teh poci yang disajikan bersamaan dengan gelas berisikan gula batu juga sudah menjadi menu sejak 1985 mendampingi tahu kupat. Untuk teh poci tersebut dibandrol dengan harga Rp 6.000.
“Kalau untuk menerus tahu kupat ini, sudah saya siapkan anak saya. Kebetulan sehari-hari juga membantu saya berjualan di warung,” ujarnya.(ren/adi)
Editor : Adi Pras