RADARSOLO.COM– Sanggar Rojolele kembali menggelar Festival Mbok Sri ke-7 di Desa Delanggu, Kecamatan Delanggu, Klaten pada Sabtu-Minggu (28-29/9/2024). Mengangkat tema Mandiri Sayekti Murakabi dengan harapan menuju bentuk ideal ketahanan pangan nasional.
Beragam kegiatan digelar dalam festival tersebut, seperti acara Petani Delanggu Bersholawat, umbul donga petani dan kirab budaya tani serta upacara wiwitan. Begitu juga peresmian living meseum edukasi pertanian Omah Rojolele, pagelaran wayang kulit dan pentas tari dari Sanggar Rojolele.
Salah satu isu yang menjadi sorotan Sanggar Rojolele Delanggu melalui festival tersebut yakni merosot minat anak muda menjadi petani di Klaten. Hal itu yang terjadi di Desa Delanggu sendiri.
”Masyarakat Delanggu memberikan sumbangsih, minimal di Delanggu dulu supaya minat generasi muda untuk terjun menjadi petani ada yang mewadahi,” ujar Ketua Sanggar Rojolele Delanggu Eksan Hartanto, Minggu (29/9/2024).
Eksan mengungkapkan, dari data demografis Desa Delanggu Tahun 2021, jumlah penduduk terdapat 6.000 jiwa. Dari jumlah itu, hanya terdapat 60 orang yang masih berprofesi sebagai petani. Hanya tujuh orang yang berusia kurang dari 40 tahun, termasuk dirinya.
”Delanggu itu terkenal dengan pertaniannya. Tapi mau belajar pertanian di Delanggu itu dimana, selama ini masih bingung. Mau belajar ke kantor penyuluhan kecamatan maupun ke gakpotan, belum ada ruang bisa menjelaskan proses bertani asal masyarakat Delanggu,” ujar Eksan.
Sedangkan berdasarkan hasil sensus pertanian dari Badan Pusat Statistik (BPS) Klaten pada 2023 terdapat 109.415 petani di Kota Bersinar. Berusia dari kurang 15 tahun hingga 64 tahun. Petani di wilayah Klaten didominasi usia lebih dari 45 tahun.
Sementara itu, untuk jumlah petani milenial dengan kelompok umur 19-39 tahun di Klaten tercatat sebanyak 11.236 orang. Jumlah itu hanya 10,27 persen dari jumlah petani di Klaten pada 2023.
Diakui Eksan, merosotnya minat anak muda menjadi petani karena kaitannya kesejahteraannya. Terlebih lagi dari sisi sosial dan ekonomi, untuk menjadi petani dinilai belum menguntungkan. Terutama terkait pendapatan yang diperoleh. (ren/adi)
Editor : Adi Pras