RADARSOLO.COM – Kondisi pasar hewan di Kecamatan Jatinom, Klaten pada Kamis (9/1/2025) pagi terlihat sepi.
Jumlah sapi yang diperjualbelikan di pasar hewan itu mengalami penurunan hingga 60 persen.
Hal itu disebabkan oleh merebaknya kembali wabah penyakit mulut dan kuku (PMK).
”Biasanya kalau setiap kali ke pasar hewan bisa bawa tujuh sampai 10 ekor sapi. Tapi sekarang hanya dua ekor saja. Soalnya khawatir kalau sampai tertular,” ujar Jemi, 50, salah seorang peternak sapi ditemui Radarsolo.com, Kamis (9/1/2025).
Selain pasar hewan sepi, wabah PMK juga membuat harga sapi menjadi anjlok. Terdapat selisih harga dari Rp 2 juta sampai Rp 6 juta dari harga sebelumnya.
Jemi menyontohkan, harga sapi jenis limosin dengan usia empat tahun sebelumnya dibanderol Rp 17 juta-Rp 18 juta per ekor. Kini hanya dihargai Rp 11 juta, tetapi tetap kesulitan untuk menjualnya.
”Gara-gara PMK ya pengaruh sekali ke harga pasaran. Harganya jadi anjlok, lha permintaan pasar seperti itu,” ujar Jemi.
Sementara itu, Koordinator Puskeswan Jatinom Dwi Pujiningsih mengungkapkan, pasar hewan Jatinom sudah lesu sejak Minggu ketiga Desember 2024. Hingga yang terparah terjadi di Minggu kedua Januari 2024.
”Jumlah sapi yang diperjualbelikan di pasar hewan secara bertahap mengalami penurunan. Dari awalnya 300-an ekor sapi jadi 100-an ekor saja. Ini jadi penurunan yang drastis karena khawatir tertular PMK,” ujar Dwi. (ren/adi)
Editor : Adi Pras