Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

Dua Tahun Tak Ditanami Padi Akibat Serangan Tikus, Petani di Juwiring Klaten Akhirnya Panen Raya

Angga Purenda • Rabu, 12 Maret 2025 | 03:10 WIB
Para petani dan Forkopimcam menunjukan gabah hasil panen di Desa Kwarasan, Kecamatan Juwiring, Klaten. (Dokumentasi Petani Kwarasan)
Para petani dan Forkopimcam menunjukan gabah hasil panen di Desa Kwarasan, Kecamatan Juwiring, Klaten. (Dokumentasi Petani Kwarasan)

RADARSOLO.COM – Lahan pertanian di Desa Kwarasan, Kecamatan Juwiring, Klaten sempat dua tahun tidak ditanami padi.

Hal itu disebabkan serangan hama tikus yang membuat petani desa setempat alami gagal panen. Tetapi kondisi itu berubah setelah melakukan penanaman musim tanam kali ini.

Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Sri Mulya Desa Kwarasan Daryanto menceritakan, serangan hama tikus itu muncul karena penanaman yang tidak serempak. Waktu tanam antara lahan pertanian yang satu dan lainnya berbeda.

”Itu yang justru menjadi umpan bagi tikus hingga akhirnya para petani kehabisan modal. Lalu mendapatkan pendampingan dari Bulog berupa permodalan,” ujar Daryanto, Selasa (11/3/2025).

Daryanto mengungkapkan, dengan adanya pendampingan itu menjadi para petani bahu membahu melakukan penanaman padi lagi. Termasuk mengolahnya lahannya secara serempak seluas 10 hektare.

Setidaknya ada 50 petani yang terlibat dalam penanaman padi dengan jenis Gama Gogo Rancah (Gamagora). Tanaman padi yang merupakan hasil pengembangan dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta.

Alhamdulillah sekarang petani bisa balik modal. Bisa menanam secara serempak, karena terbukti bisa mengurangi hama tikus,” ujar Daryanto.

Daryanto mengungkapkan, pendampingan terhadap petani diharapkan tidak hanya dilakukan oleh Bulog lewat program Mitra Tani saja.

Tetapi juga datang dari Pemerintah Desa Kwarasan sendiri lewat dana desa. Terutama kaitannya ketahanan pangan yang bisa berkolaborasi dengan Gapoktan Sri Mulya.

Sementara itu, Pimpinan Proyek Mitra Tani Kanwil Jateng Sulistianta Akhirudin menjelaskan, program yang digulirkan di Desa Kwarasan terkait hasil panen untuk produktivitas padi mencapai 5 ton per hektare berupa gabah kering panen (GKP).

Baca Juga: Berkomitmen Terapkan Tranformasi Digital, Direktur Teknologi Informasi BPJS Kesehatan Berikan Penghargaan kepada RS Cakra Husada dan RSU Islam Klaten

”Angka ini cukup tinggi, karena sebelumnya merupakan lahan yang tidak ditanami selama dua tahun. Alhamdulillah program ini berjalan dengan baik, produktivitas mencapai 5 ton. Harapan kami dengan program ini sudah selesai, petani bisa berkelanjutan menanam lanjutanya,” ujar Sulistianta.

Lebih lanjut, Sulistianta bahwa pemerintah melalui Bulog telah membeli gabah petani Rp 6.500 per Kg. Harapannya petani bisa sejahtera.

”Kemitraan di sini itu kemitraan sinergis dengan melakukan penyertaan modal budidaya dan sarana produksi pertanian (Saprodi). Untuk pendampingan hanya satu musim tanam saja. Tetapi untuk penyerapan gabah tetap dilakukan oleh Bulog,” ujar Sulistianta.

Lebih lanjut, Sulistianta menjelaskan, bahwa selain di Kwarasan, pendampingan juga dilakukan di Kecamatan Karangdowo seluas 30 hektar dan Kecamatan Wonosari seluas 20 hektar.

Diharapkan melalui pendampingan yang dilakukan itu membantu petani dalam mengolah lahan. Terutama yang sebelumnya mangkrak tidak ditanami padi karena diserang hama. (ren/adi)

Editor : Adi Pras
#panen #klaten #Hama Tikus #juwiring #panen raya #Gapoktan #padi #gabah kering panen #petani #bulog